ADA LINGGA-YONI DALAM KA’BAH?

Oleh Agus Wirabudiman

Keistimewaan sebuah Gunung di Desa Sirnajaya, Kec. Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya yang bernama Gunung Payung terdapat Lingga yang disebutkan dalam perjalanan Jayapakuan /Naskah Bujangga Manik (Lingga-payung). Dalam tradisi lisan juru kunci yang turun temurun dan sampai ke Bapak Uyun ketika di temui sekitar tahun 2012 M, menyebutkan dari leluhur juru kunci sebelumnya bahwa : “Ka’bah itu berasal dari Gunung Payung”. Sepintas lalu antara percaya dan tidak percaya, sehubungan belum ada fakta sejarah yang dapat menghubungkan kedua tempat tersebut antara Gunung Payung dengan Ka’bah (Baitullah) di Jazirah Arab. Penulis berfikir sepintas pada waktu itu, “mungkin hal itu akibat adanya proses Islamisasi” yang dilakukan oleh para juru kunci sebelumnya yang telah beragama Islam guna merawat keberadaan Tunggul (Lingga, Makam Ibu-Rama Gumulung Putih /atau Ibu Batari Hyang dan Rama Batara Hyang, Makam Panjang,..dll) selaku leluhur Galunggung yang berada di Gunung Payung.

Gambar.1, 1.Lingga-Payung (Gunung Payung), 2. Lingga-Yoni, (H)indi Hyang.

Pada tanggal 18 Mei 2017 M, Kami memperoleh informasi dan kiriman Gambar melalui WhatsApp (WA) dari kang Yusuf Maulana (Uceu). Gambar yang dikirim tersebut menyerupai bentuk Lingga-Yoni dan pada gambar yang dikirim itu terdapat keterangan dibawahnya : “Ada di dalam Ka’bah, di keluarkan pada masa Ottoman…difoto waktos simkuring Umroh 19-27 April 2017“.

Gambar. 2. Benda mirip Lingga-Yoni. (Ada di Dalam Ka’bah, dikeluarkan pada masa Dinasti Ottoman, sekarang berada di Museum Mesjid Haramain, Arab Saudi).

Kesultanan Utsmaniyah (Turki Utsmaniyah: دولت عليه عثمانیه Devlet-i ʿAliyye-yi ʿOsmâniyye; Turki Modern: Osmanlı İmparatorluğu), kadang ditulis Kesultanan Turki, Kesultanan Ottoman atau Turki saja, adalah imperium lintas benua yang didirikan oleh suku-suku Turki di bawah pimpinan Osman Bey di barat laut Anatolia pada tahun 1299.[1] Seiring penaklukan Konstantinopel oleh Mehmed II tahun 1453, negara Utsmaniyah berubah menjadi kesultanan.[2] Pada tahun 979 H/1571 M Sultan Salim al Utsmani memugar bangunan masjid secara TOTAL, tanpa menambah diluasnya, dan bangunan ini tetap ada sampai sekarang dikenal dengan bangunan Utsmaniyyah. Pada tahun 1579, Sultan Selim II dari Kesultanan Utsmaniyyah menugaskan arsitek ternama Turki, Mimar Sinan untuk merenovasi Masjidil Haram. Sinan mengganti atap masjid yang rata dengan kubah lengkap dengan hiasan kaligrafi di bagian dalamnya. Sunan juga menambah empat pilar penyangga tambahan yang disebut-sebut sebagai rintisan dari bentuk arsitektur masjid-masjid modern. Pada tahun 1621 dan 1629, banjir bandang melanda Mekah dan sekitarnya, mengakibatkan kerusakan pada Masjidil Haram dan Kakbah.

Pada masa kekuasaan Sultan Murad IV tahun 1629, Kakbah dibangun kembali dengan batu-batu dari Mekah, sedangkan Masjidil Haram juga mengalami renovasi kembali.[3] Apabila Batu berbentuk mirip dengan Lingga-Yoni tersebut di atas, dikeluarkan dari dalam Ka’bah (Baitullah) pada masa Dinasti Ottoman, sangat dimungkinkan terjadi antara tahun 979 H / 1571 M (Sultan Salim al Utsmani) dengan tahun 1621 M (Sultan Murad IV) /atau antara Abad 16-17 M. Artinya semasa hidup Nabi Muhammad SAW (571-632 M), semasa Shahabat Rasulullah Khalifah Abu Bakar (632 – 634 M), Khalifah Umar bin Khattab (634 – 644 M), Khalifah Utsman bin Affan (644 – 656 M), Khalifah Ali bin Abi Talib (656 – 661 M), semasa Dinasti Umayyah (661-750 M), Dinasti Abbasiah (750-1258 M), sampai Dinasti Ottoman (1299–1570 M), Batu berbentuk mirip Lingga-Yoni tersebut masih tetap berada didalam Ka’bah (Baitullah) walaupun telah terjadi pula perbaikan pada bangunan Ka’bah sebelumnya. Sampai saat sekarang ini, penulis belum menemukan penamaan untuk benda Batu tersebut menurut istilah penamaan dalam Bahasa Arab baik Al-Qur’an maupun Al-Hadist, oleh karena itu penulis sebut saja Lingga-Yoni Di Tanah Bakkah/Makkah.

Gambar. 2. Lingga-Yoni Tanah Makkah dan Lingga-Yoni Tanah Jawadwipa/Galunggung.

Lain halnya dengan benda berupa Batu bulat berwarna hitam yang terletak diluar sudut bangunan Ka’bah. Batu tersebut bernama Hajar Aswad. Hajar Aswad (Arab: أسود حجر) merupakan sebuah batu yang diyakini oleh umat Islam berasal dari surga, dan yang pertama kali menemukannya Nabi Ismail dan yang meletakkannya adalah Nabi Ibrahim.[4] Dahulu kala batu ini memiliki sinar yang terang dan dapat menerangi seluruh jazirah Arab. Namun semakin lama sinarnya semakin meredup dan hingga akhirnya sekarang berwarna hitam. Batu ini memiliki aroma yang unik dan ini merupakan aroma wangi alami yang dimilikinya semenjak awal keberadaannya, dan pada saat ini batu Hajar Aswad tersebut ditaruh di sisi luar Kabah sehingga mudah bagi seseorang untuk menciumnya.[5] Adapun mencium Hajar Aswad merupakan sunah Nabi Muhammad SAW. Karena dia selalu menciumnya setiap saat tawaf.[6]

Walaupun bangunan Ka’bah mengalami beberapa perbaikan, termasuk mengganti penutup lubang bulat Hajar Aswad, namun posisi Hajar Aswad tetap dikembalikan pada tempat asalnya. Bagaimana dengan Batu berbentuk Lingga-Yoni berasal dari dalam Ka’bah?, apakah hanya karena tidak mengetahui /atau tidak ada riwayat hadist Rasulullah tentang “mengusap /atau mencium” Batu berbentuk Lingga-Yoni lalu kemudian keberadaan Batu tersebut dianggap bukan bagian dari Syari’at Islam? “sehingga dikeluarkan dari dalam Ka’bah”?.

Kalaulah Batu berbentuk Lingga-Yoni itu bukan bagian terpenting dari bangunan Ka’bah (Baitullah) tentulah Rasulullah sudah mengeluarkan, membersihkan bahkan menghancurkannya seperti patung-patung berhala Latta, Uzza dan berhala-berhala (Asnam) lainnya yang pernah berada di lingkungan Ka’bah. Namun sehubungan faktanya Batu berbentuk mirip Lingga-Yoni /Lingga-Yoni di Tanah Makkah tersebut semenjak Rasulullah mengajarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah tetap masih ADA, maka merawat /atau memelihara Batu berbentuk Lingga-Yoni itu dengan membiarkan tetap berada didalam Ka’bah adalah merupakan Sunnah Rasulullah SAW.

Dengan demikian keberadaan Batu Lingga-Yoni itu sama pentingnya seperti keberadaan bangunan Ka’bah dan Batu hitam (Hajar Aswad) yang merupakan peninggalan Islam sekaligus warisan bagi ummat Islam walaupun Batu berbentuk Lingga-Yoninya sekarang berada di Museum Masjid Haramain[7]. Allah SWT berfirman :

Artinya : “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (QS. Al Hasyr[59]:7).

Artinya : “Maka hendaklah orang – orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan (Fitnah) atau ditimpa azab yang pedih” (QS.An Nur[24]: 63).

Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS.Al Ahzab[33]:21).

Artinya : “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku untukmu, dan telah Aku ridha Islam sebagai agama bagimu”.(QS.Al Maidah[5]:3).

Dari ayat-ayat tersebut di atas, seraya menegaskan, tidak ada sedikit pun celah kekurangan Ajaran Islam yang disampaikan oleh Rasulullah SAW dijazirah Arab (Abad 6-7 M). Kesempurnaan Ad-din Al-Islam pun telah diberikan untuk kamu (ummat Muslim) bukan untuk Allah (Ad-din Allah), sehingga Islam tergantung pada pundak kaum Muslimiin dalam melaksanakan Din Islam itu, baik-buruknya Islam bukan untuk Allah akan tetapi untuk ummat Muslim sendiri, karena ni’mat Islam pun telah Allah SWT cukupkan bagi kamu.

Oleh karena itu, berkaitan dengan benda Batu berbentuk mirip dengan Lingga-Yoni di atas yang berasal dari dalam Ka’bah (Baitullah), sudah semestinya ummat Islam mengetahui sejarah, hikmah /atau makna yang tersirat dibalik bentuk Batu tersebut menurut ajaran Islam (Al-Qur’an dan Al-Hadist), serta mengetahui sebab disimpannya di Museum, mengapa “tidak pada tempatnya” Baitullah (Ka’bah)? sebagaimana Batu hitam(Hajar Aswad).

Adanya perubahan kondisi tatanan pada tempat ritual keagamaan Islam tersebut, mungkin salah satunya disebabkan dari perubahan politik Islam yang terbagi menjadi beberapa firqah/golongan Islam.

Bersambung…

BACA :

GALUNGGUNG

http://www.sukapura.id/galunggung/

MEMBACA KEMBALI ISLAMISASI DI TATAR SUNDA (STUDI KABUPATIAN SOEKAPOERA)

http://www.sukapura.id/membaca-kembali-islamisasi-di-tatar-sunda-studi-kabupatian-soekapoera/

SUNDA-PARAHYANGAN-GALUNGGUNG

http://www.sukapura.id/sunda-parahyangan-galunggung/

TIDAK ADA KERAJAAN HINDU DI NUSANTARA

http://www.sukapura.id/tidak-ada-kerajaan-hindu-di-nusantara/

GALUNGGUNG=JAWADWIPA

http://www.sukapura.id/galunggungjawadwipa/

GALUNGGUNG(2)

STUDI KRITIS TULISAN RAKEYAN SANCANG (ISLAMISASI TATAR PASUNDAN 629-1521 M). Oleh Agus Wirabudiman, 13 Agustus 2017 https://www.facebook.com/groups/1856323141298631/permalink/1875937142670564/

[1] “Ottoman Empire”. Britannica Online Encyclopedia. Diakses tanggal 11 February 2013.

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Utsmaniyah , Diakses tanggal 07 Juli 2017 M

[3] https://id.wikipedia.org/wiki/Masjidil_Haram , Diakses tanggal 07 Juli 2017 M

[4] Shaykh Safi-Ar-Rahman Al-Mubarkpuri (2002). Ar-Raheeq Al-Makhtum (The Sealed Nectar): Biography of the Prophet. Dar-As-Salam Publications. ISBN 1-59144-071-8.

[5] Elliott, Jeri (1992). Your Door to Arabia. Lower Hutt, N.Z.: R. Eberhardt. ISBN 0-473-01546-3.

[6] Mohamed, Mamdouh N. (1996). Hajj to Umrah: From A to Z. Amana Publications. ISBN 0-915957-54-X.

[7] Museum haramain yang di berada di daerah Ummul Joud jalan yang menuju ke Hudaibiyah atau Jalan jeddah gadim/jalan jeddah lama. Untuk berziarah ke museum Haramain ditempuh selama dua puluh menit dari masjidil Haram. Museum Haramain di bangun oleh raja Malik Fahad bin Abdul Aziz Al- Saud Museum Haramain disebut juga The Exhibition of Two Holy Mosques Architecture (Museum Arsitektur Dua Masjid Suci) karena Haramain sendiri artinya Dua Tanah Suci yaitu Kota Makkah dan Madinah. Sumber : http://www.rumahallah.com/2014/02/ziarah-ke-museum-haramain.html , Diakses 20 Juli 2017, 02:00 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *