GALUNGGUNG

Dalam Kitab Naskah Sunda Kuno, Amanat Rakean Darmasiksa atau disebut Prabu Sanghyang Wisnu yang bergelar Sang Paramartha Mahapurusa (Raja Sunda,1175-1297 Masehi) /atau yang disebut Amanat Galunggung Kropak 632, nama kata AGAMA sudah disebutkan “jaga rampésna agama” artinya : “Pelihara kesempurnaan agama”.

Defisinisi kata Galunggung secara etimologi berarti “Galuh Hyang Agung /atau Permata Hyang Agung”.

Adapun pengertian menurut istilah, Galunggung adalah “Sebuah Pemerintahan yang Berdasarkan Keagamaan”.

Mengetahui definisi Galunggung tersebut di atas, mungkin pembaca dimasa sekarang akan bertanya..,
(1). Agama apa?. Jawabannya : “rampésna agama”(Galunggung, Kropak 632) artinya agama sempurana.

(2). Siapa nama Tuhannya?. Jawabannya : “Hyang Agung” (konsep HYANG).

(3). Siapa Nabi /Rasul /utusan Tuhan /atau utusan Hyang yang mengajarkannya?. Jawabannya : “Para Hyangan”.

(4). Apa Kitab Suci Tuhannya /Kitab Suci Hyangnya?. Jawabannya : “Sastra-Jendra-Rahayu-Ning-Rat”.

(5). Kemana arah kiblat untuk Sembahyangnya?.

Jawabannya : “untuk Sembah-Hyang, tempat kiblatnya ada didalam diri. Dalam diri terdapat SangHyang Taya, tempatnya SangHyang Pananyaan dan SangHyang Carita”(Naskah Sanghyang Raga Dewata, Kode dj66.2923/[06], Naskah Serat Dewa Buda“Gunung” /SDB Kropak 638).

(6). Bagaimana dengan banyaknya ditemukan, Lingga (Linggahyang, Lingga-Yoni), arca dewa-dewa di Tatar Sunda /Jawa Barat?.
Jawabannya : ada didalam Naskah SDB 39r: 2—4 dan 39v: 1—2 :

39v:2,”…Demikianlah bermacam keluarnya tujuan dalam impian, diwujudkan semuanya

39v.1. oleh tujuan ketika itu, dikeluarkan semuanya gambaran itu, meragakan Siwa, Buddha, Brahma, Wisnu, raksasa, pitara, ditempatkan dalam puspalingga dan
2.arca. Itulah sebabnya terdapat Hyang dalam tujuan dunia seluruhnya dalam waktu…” (Ayatrohaedi 1988: 176).[1]

SDB menyatakan bahwa prana adalah indra, adalah kehidupan adalah tujuan (acuan), dan acuan hidup itu ialah Hyang (Sang Hyang Taya). Dalam lingkungan seluruh dunia selalu terdapat Hyang sebagai acuan. Dewa-dewa Hindu dan Buddha dinyatakan hanyalah Visualisasi dari tubuh (raga) dalam mimpi, jadi semu agar menjadi konkret kemudian “ditempatkan dalam puspalingga dan arca”.[1]

Gambaran /atau Visualisasi /atau Symbol/Sandi RAGA adalah Puspa(Bunga)Lingga dan Arca. Apabila arah kiblat Sembah Hyang tempatnya didalam Diri (Sanghyang Taya), maka tempat arah kiblat Symbol-nya adalah dimana PuspaLingga dan Arca tersebut di Letakkan.

Adapun lokasi Gunung /Bukit /pedataran dimana pun PuspaLingga, arca, dolmen, menhir /Tunggul itu di Tempatkan, maka gunung/bukit tersebut secara khusus disebut dengan KaBuyutan. Dengan demikian makna KaBuyutan memiliki 2 (dua) arti, pertama KaBuyutan arti Sejati adalah Diri(tempat Sembah Hyang), kedua KaBuyutan arti Ragawi adalah teritorial/wilayah dimana Simbol Ragawi baik Puspalingga, Arca, dolmen, menhir, Tunggul/makam tersebut ditempatkan.

Semakin bertambah dan berkembangnya aktivitas manusia, maka Kabuyutan pun menjadi pusat berbagai aktivitas sesuai fungsinya.

Dengan demikian dapat difahami bahwa :
Kabuyutan adalah Sebuah lokasi atau tempat yang disakralkan menurut aturan, seperti: keraton atau istana raja, kabataraan sebagai lembaga kaum rama, kawikwan sebagai lembaga golongan resi, mandala sebagai lembaga pendidikan, tempat peribadatan dan keagamaan, tempat pemakaman, dan sebagainya.[2]

RAMPÉSNA AGAMA
———————–
Setiap Sistem Kepercayaan yang dianut Manusia di muka bumi sekarang ini tentunya masing-masing memiliki landasan Historisnya.

Begitu juga dengan Sistem Kepercayaan Nusantara (SALAKAnagara-TARUMAnagara-GALUH-SUNDA). ISI PESAN yang disampaikan Prabu Darmasiksa yang bergelar Prabu Sanghyang Wisnu Sang Paramartha Mahapurusa (Raja Sunda,1175-1297 Masehi) atau yang disebut “amanat” Galunggung SALAH SATUNYA adalah PESAN untuk mempertahankan Sistem Kepercayaan yang telah dianut oleh Leluhurnya yaitu Sunda-Galuh-Tarumanagara-Salakanagara.

Agar tidak terjadi multi tafsir mengenai kata “RAMPESNA AGAMA” berikut selengkapnya :

#jaga rampésna agama, hana kahuripana urang sakabeh, mulah kwaywa moha di carékna kwalwat pun…

#Pelihara kesempurnaan agama, pegangan hidup kita semua, jangan luput atau bingung terhadap ajaran para leluhur…

Pada bagian selanjutnya :
//————————-
#Tetaplah mengikuti ucap orang tua, melaksanakan ajaran yang membuat parit pertahanan di Galunggung*), agar unggul perang, serba tumbuh tanam-tanaman, lama berjaya panjang umur, sungguh-sungguhlah mengikuti patikrama warisan dari para suwargi.

Keterangan :
*)Yang membuat PARIT pertahanan di Galunggung berdasarkan PRASASTI GEGER HANJUANG adalah Batari Hyang. Dengan kata lain “#Tetaplah mengikuti ucap orang tua, melaksanakan ajaran yang membuat parit pertahanan di Galunggung = AJARAN BATARI HYANG”.

Seperti apa Ajaran Batari Hyang tersebut?
—————————————–
Berdasarkan hasil penelitian kami di Kabuyutan Gunung Payung Cineam, yang dimaksud makom Ibu-Rama Gumulung Putih (Ka-Galunggung-an) adalah makom Ibu BatariHyang (bernama Dewi Citra Wati) dan Rama BataraHyang (bernama Sudakarma Wisesa). Selain itu terdapat LINGGA (Symbol Ajaran) sebelum masuk ke area makom Ibu-Rama Gumulung Putih tersebut.

Dengan demikian jelas lah bahwa Ajaran yang dimaksud “RAMPESNA AGAMA” sebagaimana pesan Prabu Darmasiksa adalah Ajaran yang disimbolkan dalam bentuk LINGGA sebagai “Kiblatnya” bukan Ka’bah (Kiblat dalam Ajaran Islam Abad 6-7 Masehi).

PENJELASAN mengenai Konsep Hyang, Puspalingga dan arca telah dijelaskan dalam tulisan status di atas berjudul GALUNGGUNG serta baca pula dalam postingan sukapura.id ini berjudul SUNDA-PARAHYANGAN-GALUNGGUNG dan TIDAK ADA KERAJAAN HINDU DI NUSANTARA.

Oleh karena itu WALAUPUN #–islam yg sdh ada 700 tahun sebelum amanat galunggung–#, isi Naskah “amanat” Galunggung justru MENEGASKAN bahwa Sistem Ajaran yang dianut /diterapkan pada masa Galunggung Awal maupun Galunggung Akhir berkiblat pada Ajaran LinggaHyang bukan Ka’bah (di Jazirah ARAB).

Bagaimana Menurut Ajaran Islam Yang Disampaikan Oleh Nabi Muhammad SAW pada masa ABAD 6-7 Masehi terhadap Keberadaan Ajaran Galunggung itu? :

QS. Al-Maidah : 48. Artinya : “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…”.

a). QS.Ibrahim:4. “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa (Lisan) kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.,…”.
b). QS.An-Nisa:164. “…dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu…”. QS.Al-Mu’min:78. “…ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu..”.
c). QS.Al-Maidah:48. “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.(Syir’atan Waminhajan)”.
d). QS.Al-Baqaroh:148. “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya…”.
e). QS.Al-Baqaroh, 135. “…Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

Sementara Nabi Muhammad SAW sendiri dalam QS.An-Naml[27]:91. Artinya : “Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah)”.

Bukti tinggalan Arkeologi nya adalah bangunan Ka’bah disebut Baitullah (Rumah Allah) sebagai Kiblatnya, Allah adalah nama Tuhan di “negeri Mekah tersebut”.

Dari keterangan ayat Al-Qur’an di atas point a) sampai e) itulah SALAH SATU maksud bahwa Ajaran Islam itu memberikan sebuah rahmat (rahmatan lil’alamiin).

Berikut ini Silsilah Leluhur Prabu Darmasiksa dari Ibu Batarihyang dan Rama Batarahyang.

[1]Aditia Gunawan; mengutip kajian dari Ayatrohaedi : Tinjauan Napas Keagamaan Hindu-Buddha Dalam Beberapa Naskah Sunda Kuno (Abad Ke-14—16 M).
[2]Undang A. Darsa; KONSEPSI DAN EKSISTENSI GUNUNG BERDASARKAN TRADISI NASKAH SUNDA (Sebuah Perspektif Filologi). UADarsa-FIBU-1432014. Hal. 16
kahatur kang Undang A. Darsa , kang Aditia Gunawan
neda Widi..dikutip janten Referensi..
_/|\_, hatur nuhuuun
Baktos pun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 comments