MEMBACA KEMBALI ISLAMISASI DI TATAR SUNDA (STUDI KABUPATIAN SOEKAPOERA)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Mengenai Sunda-Islam, Islam-Sunda atau ungkapan “Islam teh Sunda, Sunda teh Islam[1], telah lama menjadi bahan penelitian, dan menjadi bahan pembicaraan dalam berbagai kesempatan, baik diskusi, seminar maupun melalui media cetak.

Menurut Ajip Rosidi ungkapan tersebut merupakan strategi kebudayaan dalam upaya membendung gerak paham komunis yang mulai merajalela di tengah-tengah masyarakat Sunda. Periksa Agus Ahmad Safei,”Fenomena Kultural Islam-Sunda” dalam Cik Hasan Bisri, dkk. Pergumulan Islam Dengan Kebudayaan Lokal di Tatar Sunda. Cetakan Ke-1. Bandung: Kaki Langit. 2005, h. 139.

Urang Sunda mah geus Islam samemeh Islam”, diungkapkan oleh Penghulu K.H. Hasan Mustofa dalam menafsirkan al-Qur`an pada ayat-ayat awal suarat Al-Baqoroh. “Islam” yang pertama adalah Islam lawas, yakni Islam yang dibawakan oleh Nabi dan Rasul sejak Nabi Adam, a.s yakni agama tauhid. Sedangkan Islam ayeuna yakni Islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad saw. Dengan demikian, orang Sunda yang keluar dari agama Islam sama dengan keluar dari lingkungan budaya Sunda. Periksa Juhaya S. Praja, “Hukum Islam dalam Tradisi dan Budaya Masyarakat Sunda”, dalam Cik Hasan Bisri, dkk., Op. Cit. h. 131.

Dadan Wildan (Dosen Universitas Galuh, Ciamis, Jawa Barat) mengungkapkan : “Terlepas dari itu semua, pemahaman pelaksanaan adaptasi dan harmoni antara Islam sebagai ajaran agama dengan tradisi Sunda sebagai adat istiadat warisan budaya lama disadari akan menimbulkan pemaknaan yang berbeda. Di satu pihak ada yang menganggap bahwa berbagai upacara tradisi itu adalah adat istiadat yang perlu tetap dilestarikan dan sejalan dengan agama Islam, bahkan menjadi ‘sunah’, sebaliknya di pihak lain ada yang beranggapan bahwa ajaran Islam yang diwarnai oleh tradisi dan budaya Sunda adalah bentuk perbuatan bid’ah”.[2]

Berbeda dengan pendapat sebelumnya, Engkus Ruswana K mengungkapkan : “Jika ada pihak yang menyimpulkan bahwa Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda Padjadjaran menganut Hindu, masih patut diragukan kebenarannya sebab sampai dengan saat ini belum ada bukti sejarah yang dapat mendukung kesimpulan tersebut. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan apakah Galuh dan Pajajaran menganut Hindu-Buddha atau agama/kepercayaan asli Sunda”.

Selanjutnya menurut Bapak Engkus Ruswana K : “Beberapa komunitas Sunda, termasuk Sunda Wiwitan, Cigugur, Ciparay dan beberapa komunitas lainnya, berkeyakinan kepercayaan yang dianut kedua kerajaan tersebut adalah agama/kepercayaan asli Sunda. Hal ini sejalan dengan penelitian antropolog Nanang Saptono dalam tulisan berjudul “Di Jateng Ada Candi, di jabar Kabuyutan” yang dimuat dalam Harian Kompas, 3 September 2001 yang menyatakan, “Dalam Carita Parahyangan juga menunjuk bahwa kepercayaan umum raja-raja di Galuh ialah sewabakti ring batara upati yang berorientasi kepada kepercayaan Asli”.[3]

Selain istilah Sunda-Islam, Islam-Sunda, baru-baru ini muncul gagasan Islam Nusantara yang diusung oleh Nahdhatul Ulama (NU) sebuah Organisasi Masyarakat Keagamaan Islam di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1926 M.[4]

Islam Nusantara menjadi isu menarik perhatian publik sejak muncul sebagai tema Muktamar NU ke-33 di Jombang pada 1-5 Agusus 2015. Perdebatan soal istilah Islam Nusantara tak dapat dielakkan. Para penentangnya adalah mereka yang selama ini memainkan panggung dakwah Islam secara radikal. Mereka para pendukung gerakan khilafah Islamiyah juga melawan keras gagasan Islam Nusantara. Sebagai paradigma keberislaman lokal yang universal, Islam Nusantara sebenarnya bukan paradigma baru. Istilah ini dimunculkan sebagai upaya meneguhkan keberislaman yang universal, yakni agama rahmatal lil ‘alamin.[5]

Dr Nico Pruca (Dosen Universitas Wina Austria) menyampaikan dalam forum International Conference of the Moderate Islamic Leaders (Isomil) sebagai berikut : “Seringkali orang-orang Barat memiliki pandangan bahwa Islam itu negara-negara Arab dan mengenyampingkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia. Sebab itu, konflik berkepanjangan yang terjadi di Arab menguatkan sudut pandang Barat bahwa Islam identik dengan kekerasan, padahal tidak seperti itu”. Demikian pernyataan Pakar Radikalisme dari Department of War Studies ICSR (The International Center of The Study Radicalization and Political Violence) yang berbasis di London, Dr Nico Prucha terhadap pandangan Islam di Barat saat diwawancarai NU Online di Jakarta, Selasa (10/5/2016) malam.[6]

Berdasarkan Sensus Penduduk 2010. Jakarta, Indonesia : Badan Pusat Statistik. 15 May 2010. Islam 207176162 (87,18%), Kristen 16528513 (6,96), Katolik 6907873 (2,91), Hindu 4012116 (1,69), Buddha 1703254 (0,72), Kong Hu Cu 117091 (0,05), lainnya 299617 (0,13), tidak terjawab 139582 (0,06), tidak ditanyakan 757118 (0,32), Total 237,641,326 [7]

Dari total jumlah penduduk tersebut tersebar di 33 (tiga puluh tiga) Provinsi yaitu 1. Aceh 4,494,410; 2. Sumatera Utara 12,982,204; 3. Sumatera Barat 4,846,909; 4. Riau 5,538,367; 5. Jambi 3,092,265; 6. Sumatera Selatan 7,450,394; 7. Bengkulu 1,715,518; 8. Lampung 7,608,405; 9. Kep. Bangka Belitung 1,223,296; 10. Kepulauan Riau 1,679,163; 11. DKI Jakarta 9,607,787; 12. Jawa Barat 43,053,732; 13. Jawa Tengah 32,382,657; 14. DI Yogyakarta 3,457,491; 15. Jawa Timur 37,476,757; 16. Banten 10,632,166; 17. Bali 3,890,757; 18. Nusa Tenggara Barat 4,500,212; 19. Nusa Tenggara Timur 4,683,827; 20. Kalimantan Barat 4,395,983; 21. Kalimantan Tengah 2,212,089; 22. Kalimantan Selatan 3,626,616; 23. Kalimantan Timur 3,553,143; 24. Sulawesi Utara 2,270,596; 25. Sulawesi Tengah 2,635,009; 26. Sulawesi Selatan 8,034,776; 27. Sulawesi Tenggara 2,232,586; 28. Gorontalo 1,040,164; 29. Sulawesi Barat 1,158,651; 30. Maluku 1,533,506; 31. Maluku Utara 1,038,087; 32. Papua Barat 760,422; 33. Papua 2,833,381; Total 237,641,326.

Jumlah penduduk Provinsi Jawa Barat berdasarkan Agama, Islam 41,763,592; Kristen 779,272; Katolik 250,875; Hindu 19,481; Budha 93,551; Kong Hu Chu 14,723; Lainnya 5,657; Tidak Terjawab 66,868; Tidak Ditanyakan 59,713; Total 43,053,732. [8]

Melihat data statistik di atas, jumlah penduduk Provinsi Jawa Barat merupakan jumlah penduduk terbanyak diantara Provinsi yang ada di Indonesia dan mayoritas memeluk Agama Islam. Provinsi Jawa Barat sendiri berada di kepulauan Jawa (Java) bagian Barat, dimana sebelah utara dibatasi Laut Jawa, sebelah selatan dibatasi Laut Hindia. Sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Banten dan sebelah timur berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah.

Iklim tropis, tanah yang sangat subur menjadi ciri Pulau Jawa (java). Raffless mengungkapkan kekagumannya akan kondisi tanah Jawa dengan menuliskan bahwa hanya dengan sedikit perawatan tanah di pulau itu dapat menghasilkan banyak macam tanaman dan buah-buahan yang sangat melimpah, dan itu dapat mencukupi kebutuhan seluruh penduduknya.[9] Mona Lohonda pernah mengibaratkan Jawa sebagai perut bumi dengan struktur tanah yang berlapis-lapis sesuai dengan umurnya, dimana peradaban Jawa mengandung lapisan budaya Hindu-Budha-Cina-Arab/Islam dan Barat yang kesemuanya itu adalah “unsur luar”.[10]

Keberadaan Islam sebagai bagian dari “unsur luar” (Arab) menjadi agama yang dipilih oleh mayoritas penduduk Indonesia khusunya di pulau Jawa bagian Barat (sesuai data di atas) yang tentunya tidak terlepas dari peran perjuangan tokoh-tokoh penyebaran agama Islam di wilayah Nusanatara sejak ratusan atau bahkan mungkin ribuan tahun yang lalu.

Oleh karena itu ada baiknya untuk membaca kembali berbagai temuan data sejarah seputar masuknya Islam di pulau Jawa. Memperhatikan tarih/tahun Batu nisan Fathimah binti Maimun di Jawa Timur, dengan tulis bahasa Arab huruf kaligrafi bergaya Kufi yang bertarih 1082 M[11] dijadikan sebagai bukti arkeologis oleh para ahli sejarah sebagai awal masuknya Islam ke pulau Jawa. Adapun Inskripsi batu nisan tersebut, terdiri dari tujuh baris, berikut ini adalah bacaan J.P. Moquette yang diterjemahkan oleh Muh. Yamin :[12]

Atas nama Tuhan Allah Yang Maha Penyayang dan Maha Pemurah

Tiap-tiap makhluk yang hidup di atas bumi itu adalah bersifat fana

Tetapi wajah Tuhan-mu yang bersemarak dan gemilang itu tetap kekal adanya

Inilah kuburan wanita yang menjadi kurban syahid bernama Fatimah binti Maimun

Putera Hibatu’llah yang berpulang pada hari Jumiyad ketika tujuh

Sudah berlewat bulan Rajab dan pada tahun 475[13]

Yang menjadi kemurahan Tuhan Allah Yang Maha Tinggi

Bersama pula Rasulnya Mulia

Baris 1 merupakan basmalah sedangkan baris 2-3 merupakan kutipan Surah Ar-Rahman ayat 25-26, yang umum dalam epitaf umat Muslim, terutama di Mesir.[14] Namun apabila QS. Ar-Rahman[55]:25-28[15] sebagai berikut :

Artinya :

  1. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan­?
  2. Semua yang ada di bumi itu akan binasa.
  3. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
  4. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Bandingkan dengan hasil Inskripsi batu nisan tersebut di atas baris 2-3 :

Baris-2 : Tiap-tiap makhluk yang hidup di atas bumi itu adalah bersifat fana

Baris-3 : Tetapi wajah Tuhan-mu yang bersemarak dan gemilang itu tetap kekal adanya

Maka yang bersesuaian arti makna dari tulisan batunisan tersebut adalah surah Ar-Rahman Ayat 26-27 bukan ayat 25-26. Sedangkan tulisan “sudah lewat bulan Rajab (mungkin awal bulan Sa’ban/Zulhijjah) dan pada tahun 475” menunjukan bulan dan tahun Hijriyah bertepatan dengan bulan Desember tahun 1082 Masehi[16].

Keberadaan temuan batu nisan tersebut merupakan salah satu data arkeologis yang berkenaan dengan keberadaan komunitas Muslim pertama di kawasan pantai utara Jawa Timur. Gaya Kufi tersebut menunjukkan di antara pendatang di kawasan pantai tersebut, terdapat orang-orang yang berasal dari Timur Tengah dan bahwa mereka juga merupakan pedagang, sebab nisan kubur dengan gaya Kufi serupa juga ditemukan di Phanrang, Champa selatan. Hubungan perdagangan Champa-Jawa Timur tersebut adalah bagian dari jalur perdagangan komunitas Muslim pantai pada abad ke-11 yang membentang di bagian selatan Cina, India, dan Timur Tengah.[17]

Dihubungkan dengan teori awal Islam masuk ke Nusantara pada Abad ke-7 tepatnya di Aceh kepulauan Sumatera (Teori Arab, Persia, Gujarat, Bangali, Cina) hingga berdirinya Kerjaan Perlak dan Kerajaan Pasai, kedatangan rombongan Fatimah binti Maimun yang wafat pada tahun 1082 Masehi di Gersik pulau Jawa bagian Timur, terjadi ketika masa pemerintahan Kerajaan Samudra Pasai yang pertama (Dinasti Meurah Giri) bernama Maharaja Mahmud Syah (1042-1078) dan di Kerajaan Perlak bertahta Dinasti Makhdum Johan Berdaulat ke-6 bernama Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mansur Syah Johan Berdaulat (1059-1078 M)[18], maka dapat dipastikan bahwa Islam masuk kepulau Jawa setelah meredanya peristiwa peperangan antar kelompok Sunni dan Syi’ah.

Berbeda dengan awal proses Islamisasi di pulau Jawa bagian Barat (Tatar Sunda) dengan yang terjadi awal Islamisasi di Aceh maupun Jawa bagian Timur, dimana di pulau Aceh Timur dan Jawa bagian Timur, ajaran Islam disampaikan oleh pendatang (Teori Masuknya Islam ke Nusantara) melalui Perdagangan dan Pernikahan dengan penduduk setempat, sedangkan di Jawa Barat justru seorang Saudagar lokal (pribumi) yang sering bepergian berdagang ke Sumatera, Cina, India, Srilanka, sampai ke Arab yang berganti Keagamaan /Kerpercayaannya menjadi agama Islam sewaktu berada di India yang diislamkan oleh saudagar Islam Arab bernama Muhammad, selanjutnya menyebarkan Islam di wilayah Jawa Barat (Tatar Sunda). Tokoh saudagar itu disebut dalam Naskah Carita Parahyangan (naskah sunda kuna Abad ke-16) bernama Bratalagawa putra kedua Prabu Pangandiparamarta Jaya Déwabrata atau Bunisora Suradipati.

Ketika di Gujarat, India, Bratalegawa mempunyai sahabat sekaligus rekan berniaganya bernama Muhammad. Muhammad mempunyai anak gadis bernama Farhana, dan Bratalegawa menjatuhkan pilihannya kepada gadis itu untuk dijadaikan istri. Bratalegawa kemudian memeluk agama Islam, kawin dengan Farhanah, lalu mereka kedua menunaikan ibadah Haji ke Mekah, dan Bratalegawa berganti nama menjadi Haji Baharuddin Aljawi.[19]

Dari Mekah mereka kembali ke Galuh[20], Negara asal Bratalegawa. Disana mereka mengunjungi Ratu Banawati, adik bungsunya yang sudah menjadi Istri salah satu seorang Raja bawahan Galuh. Mereka membujuk Banawati agar mau memeluk agama Islam, tetapi tidak berhasil. Kemudian mereka pindah ke Cirebon Girang, tempat kakak laki-lakinya berkuasa. Upaya mengajak kakaknya memeluk agama Islam juga gagal. Kegagalan itu tidak sampai menyebabkan putusnya hubungan darah mereka. Dan Haji Baharuddin tetap memberikan bantuan kepada kedua saudaranya jika diperlukan. Di Galuh mereka tercatat sebagai orang Islam dan haji pertama oleh karena itu Ia kemudian dikenal dengan gelarnya Haji Purwa Galuh atau Haji Purwa saja : Purwa berati pertama.[21]

Mumuh Muhsin Z, dalam makalahnya[22] berjudul Penyebaran Islam Di Jawa Barat[23] menyampaikan : Sumber sejarah lokal yang dicatat oleh Hageman (1866) menyebutkan bahwa penganut Islam yang pertama datang ke Jawa Barat adalah Haji Purwa pada tahun 1250 Jawa atau 1337 Masehi. Haji Purwa adalah putera Kuda Lalean. Haji Purwa masuk Islam ketika ia sedang dalam perjalanan niaga ke India. Ia diislamkan oleh saudagar Arab yang kebetulan bertemu di India. Haji Purwa berupaya untuk mengislamkan adiknya yang sedang berkuasa di kerajaan pedalaman di Tatar Sunda. Akan tetapi upayanya itu gagal. Akhirnya Haji Purwa meninggalkan Galuh dan kemudian menetap di Cirebon Girang.[24]

Apabila kisah Haji Purwa ini dijadikan titik tolak masuknya Islam di Jawa Barat, hal ini mengandung arti bahwa Pertama, agama Islam yang pertama kali masuk ke Jawa Barat berasal dari Makah (teori Arab) yang dibawa oleh pedagang (Bratalegawa). Kedua, pada tahap awal kedatangannya, agama Islam tidak hanya menyentuh daerah Pesisir Utara Tatar Sunda, namun diperkenalkan juga didaerah perdalaman. Akan tetapi agama Islam itu tidak segera menyebar secara luas dimasyarakat. Hal ini disebabkan tokoh penyebarnya belum banyak dan pengaruh Hindu dari kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda Pajajaran terhadap Masyarakat setempat masih kuat.[25]

Dengan demikian awal proses Islamisasi di pulau Jawa bagian Barat (Tatar Sunda) terjadi pada tahun 1337 Masehi (Abad ke-14) dengan cara damai, oleh Bratalegawa yang berganti nama setelah memeluk agama Islam dan menunaikan ibadah Haji menjadi Haji Baharudin serta dijuluki Haji Purwa atau Haji Purwa Galuh putra Prabu Pangandiparamarta Jaya Déwabrata /Bunisora Suradipati alias Kuda Lalean.

Prabu Bunisora sendiri yang bergelar Pangandiparamarta Jaya Déwabrata menjadi Raja Galuh menggantikan kakak kandungnya Prabu Linggabuana (Prabu Wangi) yang wafat di bubat tahun 1357 M, sementara Niskala Wastu Kencana masih kecil dan diasuh oleh keluarga pamannya (Prabu Bunisora) bersama-sama dengan Ki Gedeng Kasmaya (Batara Kesmaya atau disebut juga Batara Cikal) anak tertua dari Prabu Bunisora. Perjalanan da’wan Haji Baharudin /Haji Purawa Galuh tidak berhenti begitu pula dengan usaha berdagangnya ke Campa (Aceh), Gujarat, Arab masih terus dilakukan bahkan setelah menikah dengan Farhana anak dari sahabat berniaganya (Muhammad), Muhammad pun akhirnya membantu Haji Purwa berda’wah di Cirebon Girang (1356 M) bahkan mungkin setiap beliau singgah diberbagai pelabuhan tempat berniaganya seperti Sunda Kalapa, Banten dan yang lainnya.

Pengaruh kebesaran ayahnya (Prabu Bunisora) Raja Sunda-Galuh dan sebagai sodagar kaya yang telah berganti kepercayaan dari agama leluhurnya menjadi agama Islam membuat perhatian masyarakat Jawa Barat (Tatar Sunda) pada khususnya, umumnya seluruh pulau yang ia singgahi, sehingga sebagian masyarakat pesisir laut jawa banyak yang mengikuti jejak Haji Purwa Galuh putra Raja Sunda-Galuh pengganti “SILIH” Prabu Wangi (Prabu Lingga Buana) untuk memeluk agama Islam. Salah satu keponakan Haji Purwa yang memeuk Islam adalah Ki Gedeng Tapa (putra Ki Gedeng Kasmaya)[26], cucu dari Prabu Bunisora. Tidak heran kalau dalam beberapa Cerita Rakyat bahwa putra Raja Prabu Silih-Wangi (Prabu Bunisora pengganti/silih Prabu Wangi) telah memeluk agama Islam.

Namun sekitar 20 (dua puluh) tahun kemudian setelah Prabu Linggabuana “Prabu Wangi” wafat 1357 M, setelah masyarakat pesisir wilayah Cirebon, Karawang, Banten mungkin sudah banyak mengenal /memeluk agama Islam, sekitar tahun 1371 Masehi, Niskala Wastu Kencana putra dari Prabu Linggabuana (Prabu Wangi) dinobatkan Menjadi Raja Sunda-Galuh menggantikan pamannya Prabu Bunisora Suradipati. Hal yang mungkin dirasakan sebagian pengikut setia Haji Purawa Galuh sedikit besarnya merasa kecewa, sehubungan yang dinobatkan Raja Sunda-Galuh bukan Haji Purwa Galuh akan tetapi Niskala Wastu Kencana yang masih kuat dalam menjalankan agama leluhurnya. Prabu Niskala Wastu Kencana menjabat Raja selama 104 tahun (1371-1475 M).

Pada tahun 1416 M, Jawa Barat kedatangan rombongan armad Laksamana Cheng-Ho atau Sam Po-Bo / Sam-po Tay-Kam yang ikut didalamnya Syaikh Hasanuddin bin Syaikh Yusuf Shiddiq, seorang Ulama terkenal dari Campa[27] (Aceh) untuk mengajar Agama Islam di kesultanan Malaka namun pada akhirnya mendirikan pesantren di daerah karawang dan dikenal dengan Syaikh Quro. Sebelumnya rombongan armada tersebut berkunjung ke berbagai tempat. Cheng Ho memimpin tujuh pelayaran armada besar Dinasti Ming selama 27 tahun (1405-1433 M) melawat ke Annam, Ceylon, Camboja, Thai, Jawa, Sumatera, India dan Malindi.[28] Tidak kurang dari tujuh kali Cheng Ho singgah di Sumatera dan mendatangi Jawa sebanyak lima kali dengan mengunjungi berbagai kota diantaranya Kukang, Gresik, Tuban, dan Mojokerto. Sebagai seorang muslim yang giat, Cheng Ho berusaha memajukan Islam baik di dalam negeri maupun negeri yang dikunjunginya[29], hal itu ditunjukan oleh utusan kaisar Cina muslim ini dengan mendukung pemerintahan Adipati Bhere Wirabumi ketika berselisih dengan Wikramawardhana (Raja Majapahit setelah Hayam Wuruk).

Tahun 1401 Masehi pecah perang saudara selama empat tahun, yakni sampai tahun 1406 Masehi antara Majapahit (Wikramawardhana) dengan Blambangan (Bhre Wirabumi, Adipati Blambangan) itu disebut Paregreg.[30] Dalam pertempuran itu, tidak kurang dari 170 orang perutusan kaisar China yang sedang berada di Balmbangan ikut terbunuh. Wikramawardhana melihat kejadian yang bisa membuat murka kaisar Cina itu segera mengirim utusan meminta maaf kepada kaisar Cina. Kaisar Cina dalam kasus itu kemudia meminta ganti rugi sebesar 60.000 tail emas tetapi hanya terbayar 10.000 tail emas dan sisanya dibebaskan.[31]

Prabu Niskala Wastu Kencana (1371-1475 M), mengetahui kedatangan rombongan Armada Cheng-Ho (1416 M) bersama ulama Islam Syaikh Hasanuddin bin Syaikh Yusuf Shiddiq seorang Ulama terkenal dari Campa (Aceh) yang kemudian mendirikan pesantren di pesisir Karawang, pada masa bersamaan pula di Pasambangan, Amparanjati di dekat Palabuan Muarajati (Cirebon) mukim Syaikh Datuk Kahfi. Keberadaan penyebaran agama Islam di Tatar Sunda oleh Raja-raja Sunda tidak dipandang sebuah ancaman “oleh karena itu Prabu Niskala Wastukencana tidak mengganggu /atau menghalang-halang kepada Haji Purwa Galuh (Bratalegawa), Syaikh Hasanuddin dan Syaikh Datuk Kahfi yang menyebarkan agama Islam di wilayah Pantura, Jawa Barat Asal tidak boleh dengan cara pemaksaan, bahkan menimbulkan keributan /peperangan”[32].

Sikap Luhur dan Pesan Raja di Tatar Sunda ini (Tidak Boleh dengan Cara Pemaksaan dan Tidak Boleh Menimbulkan Keributan) menjadi sebuah PERJANJIAN antara pemeluk agama Islam dengan pemeluk agama Leluhur Sunda pada waktu itu, selain itu pesan yang disampaikan Prabu Niskala Wastukencana tersebut sesuai dengan ajaran Islam QS.2:256. Artinya :“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)”, QS.16:125. Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”., sehingga pasukan armada Cheng-Ho dengan sisa ribuan pasukannya di Jawa Barat tidak terjadi peperangan sebagaimana yang telah dialami di Jawa bagian Timur (Perang Paregreg). Masyarakat Islam pengikut Haji Purwa Galuh semakin bertambah dan banyak belajar Islam di pondok pesantren Syaikh Quro (Karawang) dan Syaikh Datuk Kahfi (Cirebon).

Perkembangan Islamisasi di Jawa Barat selanjutnya, menurut Carita Purwaka Caruban Nagari pada sekitar 1470 Masehi penduduk kota Pelabuhan Banten telah ada yang memeluk Islam berkat usaha dakwah Sayyid Rahmat (1445 Masehi) dan Sayyid Syarif Hidayat (1475 Masehi).[33] Nama Sayyid Rahmat  disebutkan dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Ampel disebut Sayyid Rahmad merupakan keponakan dari Putri Champa permaisuri Prabu Brawijaya yang merupakan seorang muslimah. Ia adalah putra dari Ibrahim Zainuddin Al-Akbar (Maulana Malik Ibrahim atau Maulana Maghribi, yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Gresik). Pada masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Dalam catatan Kronik Cina dari Klenteng Sam Po Kong, Sunan Ampel dikenal sebagai Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng – seorang Tionghoa (suku Hui beragama Islam mazhab Hanafi) yang ditugaskan sebagai Pimpinan Komunitas Cina di Champa oleh Sam Po Bo. Sedangkan Yang Mulia Ma Hong Fu – menantu Haji Bong Tak Keng ditempatkan sebagai duta besar Tiongkok di pusat kerajaan Majapahit, sedangkan Haji Gan En Cu juga telah ditugaskan sebagai kapten Cina di Tuban. Haji Gan En Cu kemudian menempatkan menantunya Bong Swi Hoo sebagai kapten Cina di Jiaotung (Bangil).[34]

Sunan Ampel (Sayyid Rahmat) diperkiran lahir pada tahun 1401 di Champa. Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini, Encyclopedia Van Nederlandesh Indie mengatakan bahwa Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja. Pendapat lain, Raffles menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa, sementara Saifuddin Zuhri (1979) menambahkan dan berkeyakinan bahwa Champa adalah sebutan lain dari Jeumpa dalam bahasa Aceh, oleh karena itu Champa berada dalam wilayah kerejaan Aceh. Hamka (1981) berpendapat sama, kalau benar bahwa Champa itu bukan yang di Annam Indo Cina, sesuai Enscyclopaedia Van Nederlandsch Indie, akan tetapi di Aceh. Sunan Ampel (Raden Rahmat) datang ke pulau Jawa pada tahun 1443, untuk menemui bibinya, Dwarawati. Dwarawati adalah seorang putri Champa yang menikah dengan raja Majapahit yang bernama Prabu Kertawijaya.

Penulis lebih condong memahami bahwa Campa berada di Aceh dengan memperhatikan teori awal Islam masuk dan berkembang di Nusantara melalui Aceh serta memperhatikan perjalanan Sayyid Rahmat yang melakukan islamisasi di Banten (Jawa Barat) terlebih dahulu tahun 1445 M sebelum akhirnya tinggal dan wafat di Demak sekitar 1481 M dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya, Jawa Timur sekarang.

Siapa Sayyid Syarif Hidayat ?. Menurut sumber-sumber tradisi, Syarif Hidayat adalah putera Nyai Lara Santang dari hasil pernikahannya dengan Sultan Mahmud (Syarif Abdullah). Nyai Lara Santang adalah anak Ki Gedeng Tapa. Ia dilahirkan tahun 1404 Masehi dan nikah pada tahun 1422 Masehi. Nyai Lara Santang sendiri lahir tahun 1426 Masehi. Di atas disebutkan bahwa Walangsungsang bergelar Cakrabuwana beserta adiknya yang bernama Nyai Lara Santang pergi berguru kepada Syakh Datuk Kahfi yang sudah bermukim dan mendirikan perguruan agama Islam di Bukit Amparan Jati. Atas saran Syekh Datuk Kahfi, Cakrabuwana beseta Nyai Lara Santang pergi menunaikan ibadah haji. Setelah melaksanakan ibadah haji, Cakrabuwana mendapat gelar Syekh Duliman atau Abdullah Iman, sedangkan Nyai Lara Santang mendapat gelar Syarifah Mudaim.[35] Diceritakan bahwa Syarifah Mudaim ketika masih di Makkah dinikahi oleh Sultan Mahmud atau Syarif Abdullah. Ia adalah anak dari Nurul Amin dari wangsa Hasyim yang nikah dengan puteri Mesir. Hasil dari pernikahan Syaifah Mudaim dengan Sultan Mahmud ini lahirlah Syarif Hidayat. Syarif Hidayat lahir di Makkah pada tahun 1448 Masehi.[36]

Setelah dewasa, Syarif Hidayat kembali ke tanah leluhur ibunya, Tanah Sunda. Dalam perjalanan pulang dari Mesir ke Tanah Sunda, Syarif Hidayat singgah di beberapa tempat, yaitu Gujarat, Pasai, Banten, dan Gresik. Tempat-tempat ini terkenal sebagai pusat penyebaran agama Islam di Indonesia. Ketika singgah di Pasai, Syarif Hidayat bermukim agak lama. Ia berguru kepada Syekh Ishak, ayah Sunan Giri. Ketika singgah di Banten didapatkannya di daerah itu sudah ada yang menganut Islam berkat upaya dakwah Sunan Ngampel. Dari Banten, Syarif Hidayat pergi ke Ampel Denta (Gresik) untuk menemui Syekh Rahmat (Sunan Ngampel) yang sudah terkenal sebagai guru agama Islam di Pulau Jawa.[37] Sunan Ngampel, sebagai pemimpin Islam di Pulau Jawa, memberi tugas kepada Syarif Hidayat untuk menjadi guru agama dan menyebarkan Islam di Bukit Sembung (Cirebon). Memenuhi perintah Sunan Ngampel tersebut, Syarif Hidayat pergi ke Cirebon dan tiba di sana tahun 1470 Masehi. Sejak itu ia mendapat gelar Maulana Jati atau Syekh Jati[38], atau Sunan Gunung Jati.

Dalam Carita Purwaka Caruban Nagari disebutkan bahwa daerah-daerah di Jawa Barat yang diislamkan oleh Sunan Gunung Jati, selain yang telah disebutkan di atas (Cirebon, Banten, Kalapa), adalah Kuningan, Sindangkasih, Talaga, Luragung, Ukur, Cibalagung, Kluntung Bantar, Pagadingan, Indralaya, Batulayang, dan Imbanganten. Daerah Priangan Selatan diislamkan oleh Haji Abdullah Iman, uanya Sunan Gunung Jati. Pangeran Makhdum mengislamkan daerah Pasir Luhur. Galuh dan Sumedang diislamkan oleh Cirebon pada masa Sunan Gunung Jati. Menurut Carita Purwaka Caruban Nagari, Luragung diislamkan tahun 1481 Masehi. Daerah Kuningan, Talaga, Galuh, dan daerah-daerah sekitarnya pengislamannya terjadi pada tahun 1530 Masehi. Adapun daerah Rajagaluh diislamkan tahun 1528 Masehi dan Talaga tahun 1530 Masehi.[39]

Setelah pada perempat kedua abad ke-16 Masehi seluruh Pantai Utara Jawa Barat telah berada di bawah penguasaan pemimpin-pemimpin Islam. Adapun penyebaran Islam ke daerah-daerah pedalaman Jawa Barat dilakukan setelah itu. Daerah Priangan Selatan diislamkan oleh Haji Abdullah Iman, uanya Sunan Gunung Jati.[40]

Berita dari kelenteng Talang Cirebon mengatakan bahwa Maulana Ifdil Hanafi atau Haji Tan Eng Hoat pada 1513 sampai 1564 menjadi bawahan Sultan Cirebon dengan gelar Pangeran Wirasenjaya dan berkedudukan di Kadipaten Majalengka. Ia aktif mengembangkan Islam ke pedalaman Priangan Timur sampai ke Galuh (Parlindungan, 1965: 669). Besar kemungkinan Maulana Ifdil Hanafi atau Haji Tan Eng Hoat itu adalah nama lain untuk tokoh Raden Walangsungsang atau Haji Abdullah Iman atau Kean Santang atau Sunan Rahmat atau Sunan Godog. Dugaan ini didasarkan pada kesamaan jalan cerita dan peranan tokoh yang hampir sama.[41]

Dalam upaya “PROGRAM” gencar-gencarnya proses Islamisasi ke daerah wilayah pedalaman Jawa Barat, setelah menguasai wilayah pesisir Cirebon, Banten, Kalapa oleh pasukan Islam sejak 1481 M, diwilayah Kerajaan Sunda-Galuh keadaan selepas wafatnya Prabu Niskala Wastu Kencana (1371-1475 M), Kerajaan Sunda dipimpin oleh Prabu Susuktunggal (1475-1482 M) sedangkan di wilayah Kerajaan Galuh yang berpusat di Kawili, Ciamis dipimpin oleh Prabu Dewaniskala (1475-1482 M). Pada tahun 1482 Masehi, Pamanah Rasa /Jayadewata putra Dewaniskala yang dibesarkan bersama kakeknya (Prabu Wastukencana) dinobatkan menjadi Raja Galuh mendapat gelar Prabu Guru Dewataprana, kemudian dinobatkan kedua kalinya menjadi Raja Sunda dan dinikahkan dengan putri Prabu Susuktunggal bernama Nyi Kentring Manik Mayang Sunda sehingga Prabu Jayadewata memperoleh gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Ratu Dewata (Danasamita, 2003:65). Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi (Silih-Wangi).

Nama Siliwangi sudah tercatat dalam Kropak 630 (Sanghyang Siksakanda ng Karesian) sebagai lakon pantun. Naskah itu ditulis tahun 1518 Masehi ketika Sri Baduga masih hidup. Dalam Naskah Carita Parahyangan, pemerintahan Sri Baduga dilukiskan sebagai berikut : “Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang reya, ja loba di sanghiyang siksa”.

Artinya : “Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan kedatangan musuh, baik berupa laskar maupun penyakit batin. Senang sejahtera di utara, barat dan timur. Yang tidak merasa sejahtera hanyalah rumah tangga orang banyak yang serakah akan ajaran agama”. Dari naskah ini dapat diketahui, bahwa pada saat itu telah banyak Rakyat Pajajaran yang beralih agama (Islam) dengan meninggalkan agama lama.[42]

Berakhirnya Raja Sunda-Galuh (Pajajaran) Prabu Siliwangi diperkirakan tahun 1518 M, dimana Sri Baduga Maharaja /Prabu Siliwangi bersama pengiringnya meninggalkan Istana Pakuan Pajajaran di Bogor dengan cara mundur secara rahasiah (tidak ingin diketahui) atau yang dikenal “Ngahyang” dan dikenang oleh masyarakat Tatar Sunda tertulis dalam sebuah Carita Pantun Ngahyangna Pajajaran.

Kerajaan Sunda – Galuh (Pajajaran) berdiri kembali /dilanjutkan oleh Prabu Surawisesa Jayaperkosa pada tahun 1521 M atau dapat disebut Pajajaran Anyar “baru”.

Dibawah ini adalah diagram sebagian nama-nama silsilah leluhur Kerajaan Sunda-Galuh dari Prabu Raga Mulya Luhur Prabawa.

Gambar 1. Silsilah Leluhur Kerajaan Sunda-Galuh “Pajajaran” (dari berbagi sumber). Keterangan : +  = Menikah; = Berputra.

Dalam Carita Pantun Ngahyangna Pajajaran menyebutkan :

Saur Prabu Siliwangi ka balad Pajajaran anu milu mundur dina sateuacana ngahiang : “Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu, najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. Dia mudu marilih, pikeun hirup ka hareupna, supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran! Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman! Pilih! ngaing moal ngahalang-halang. Sabab pikeun ngaing, hanteu pantes jadi Raja, anu somah sakabéhna, lapar baé jeung balangsak.” [43]

Terjemah dalam Bahasa Indonesia, sebagai berikut : “Prabu Siliwangi berpesan pada warga Pajajaran yang ikut mundur pada waktu sebelum beliau menghilang : “Perjalanan kita hanya sampai disini hari ini, walaupun kalian semua setia padaku! Tapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini, membuat kalian susah, ikut merasakan miskin dan lapar. Kalian boleh memilih untuk hidup kedepan nanti, agar besok lusa, kalian hidup senang kaya raya dan bisa mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran saat ini tapi Pajajaran yang baru yang berdiri oleh perjalanan waktu! Pilih! aku tidak akan melarang, sebab untukku, tidak pantas jadi raja yang rakyatnya lapar dan miskin.”.

Masalah apa yang dihadapi Prabu Siliwangi /Sri Baduga Maharaja?. Dalam buku berjudul Sabda Radja Padjadjaran WANGSIT PRABU SILIWANGI Oleh : Eddi Tarmiddi[44], Daftar No.003-1-1966 Diterbitkan Oleh Penerbit Balebandung, 1966. Memberikan gambaran kondisi situasi penghuni Keraton sebelum meninggalkan Keraton Pajajaran “ngahiyang”  sebagai berikut :

Ragageni : “Gusti, Pangeran Walangsungsang telah datang menerjang Pajajaran memimpin tentara Banten. Setindak demi setindak tentara Pajajaran yang tidak dalam keadaan siaga untuk berperang, mulai menahan serangan dengan gerakan mundur. Mereka hampir menguasai GERBANG UTARA, sedang bantuan rakyat yang telah mimihak Islam mulai melakukan kekacauan di GERBANG TIMUR”, demikian Raden Djaserang memberikan laporannya.

Prabu Siliwangi : “Semua laporan dan desas desus telah menjadi kenyataan, Ragageni. Kini telah datang Uga Pajajaran dimana kaumku harus membuat perhitungan dengan putraku sendiri yang memihak Banten. Adakah usulmu Matri?”.

Ragageni : “Tak hamba melebihi sabda Ratu, melaikan Gusti juga yang akan memutuskan. Hamba junjung mana yang Gusti titahkan”. [45]

Prabu Siliwangi : “Catat olehmu Ragageni, Mantriku yang setia, bahwa Uga Pdajajaran telah tiba. Leluhur Pajajaran telah mengatakan bahwa pada suatu waktu Pajajaran akan mengalami kehancuran akibat dari pertentangan antara anak dan bapak, Bahwa Pajajaran takkan dikalahkan oleh tombak dan senjata, melainkan oleh bentrokan kepercayaan dan keyakinan Putraku sendiri, kini telah membawa keyakinan itu kehati rakyatku yang tiada berkenan dengan hatiku sendiri”.[46]

Dari bagian paragraf pertama Carita Pantung Ngahyangna Pajajaran, dimana Prabu Siliwangi mengatakan : “Tapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini”, dihubungkan dengan dialog antara Ragageni (mantri Juru Tulis) dengan Prabu Siliwangi di atas, maka penyebab masalah mundurnya Raja Sunda-Galuh (Pajajaran) dengan meninggalkan jabatan Kekuasaan, meninggalkan rakyat Pajajaran, meninggalkan Istana Galuh Pakuan Pajajaran secara sembunyi /rahasiah “Ngahyang” adalah karena terjadinya bentrokan Kepercayaan Keagamaan dalam intern Keluarga Besar Kerajaan.

Selanjutnya Prabu Siliwangi berkata : “Ragageni, aku mengetahui tugas kalian masing-masing, aku tahu bahwa kalian akan mau terjun kemedan perang atas perintahku walaupun kalian sendiri tidak tidak yakin apa yang akan kalian perbuat didalam peperangan itu. Namun aku mempunyai jalanku sendiri yang harus kutempuh. Putraku telah mengorbankan anak saudara, Ibu dan Ayahnya demi keyakinannya. Putraku telah datang menyerang Negara yang seharusnya dia pertahankan sampai titik darahnya penghabisan. Diangkatnya senjatanya kedada ayahnya demi keyakinannya, sebab aku yakin bahwa dia bukan ingin merebut kekuasaan pemerintahan melainkan ingin memaksakan keyakinannya kepada rakyat Pajajaran termasuk ratunya yang menjadi penggelarnya dialam dunia ini. Aku yakin bahwa usahanya telah mulai sejak lama dan telah banyak rakyatku yang setia padanya sehingga pada kesempatan ini dia telah mendapat dukungan yang sangat baik dari mereka, Sebab bila tidak demikian tak mungkin ia akan melakukan serangan senekad ini. Maka apabila putraku telah sanggup mengorbankan segalanya demi keyakinannya, haruskan aku takut mengorbankan segala yang aku punya demi keyakinanku?. Aku akan meninggalkan keraton ini demi keyakinanku dan aku tak mau rakyat Pajajaran menebusnya dengan jiwa dan raganya. Biarkanlah mereka tetap hidup aman tentram didalam keyakinannya yang baru, sebab aku yakin tak mungkin lagi aku akan menjadi pelindung mereka yang berlainan keyakinan dengan diriku, mereka akan menganggap diriku kufur dan aku menganggap mereka ingkar”.[47]

Keteguhan Prabu Siliwangi untuk mempertahankan keyakinan dengan meninggalkan Kraton Pajajaran dan tidak ingin diketahui keberadaannya oleh pasukan Islam Banten yang dipimpin oleh Walngsungsang. Cerita pengejaran terhadap Prabu Siliwangi yang tetap tidak mau memeluk Islam atas desakan putranya tersebut di atas, sejalan dengan yang diceritakan dalam Babad Godog Garut.

Sebagaimana yang dituliskan di atas, dalam rangka “Program” Islamisasi ke wilayah pedalaman Tatar Sunda lebih tepatnya lagi untuk mengislamkan Raja Sunda-Galuh (Pajajaran) sebagai kelanjutan proses Islamisasi yang telah dilakukan oleh Haji Purwa Galuh sejak tahun 1337 Masehi, daerah Priangan Selatan khusnya wilayah Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut sekarang, diislamkan oleh Haji Abdullah Iman (Walangsungsang), uanya Sunan Gunung Jati.

Wilayah Kota, Kabupaten Tasikmalaya dan sebagian wilayah Kabupaten Garut sekarang sebelumnnya termasuk wilayah pemerintahan Kabupatian Soekapoera atau ditulis Sukapura. Merujuk pada Piagam Sultan Agung Mataram tertanggal 9 Muharam tahun Alip dapat dianggap sebagai permualaan didirikannya Kabupaten Sukapura. Ada beberapa pendapat terhadap penafsiran tahun Alip ini. Menurut pendapat Prof. Dr. Mr. Soekanto piagam tersebut bersamaan dengan tanggal 17 Juli 1633 M (Suhandi, 1971:11), sedangkan Dr. F. De Haan menetapkannya tanggal 9 Muharam tahun Alip itu sama dengan tanggal 20 April 1641 (de Haan, 1912:11).[48] Pada masa Kerjaan Sunda-Galuh (Pajajaran), Soekapoera sendiri merupakan suatu negara bagian Pajajaran. Pendapat tersebut berdasarkan tulisan Hageman dalam Geschiedenis der Soendalanden yang menyatakan jumlah neraga-negara bagian atau vazal-vazal kekusaan Pajajaran (Hageman,1869:209)[49]

Soekapoera sebagai Kerajaan bawahan Kerajaan Pajajaran, diperkuat dengan adanya tinggalan arkeologi di Musium Alit Sukapura, salahsatunya Goong Pajajaran dari Prabu /Perbu Siliwangi sesuai Naskah Wasiat Leluhur Sukapura R. Indrayuda tanggal 16 Juli 1892, masa Bupati Sukapura ke-12 R. Kanjeng Dalem Bintang (1875-1900 M).

Gambar 2. Scan Akta Wasiat R. Indrayuda, No.14, 5 Oktober 2012.

Dari data wasiat Sukapura tersebut, selain menunjukan adanya hubungan Sukapura dengan Kerajaan Pajajaran juga dapat dihubungkan dengan Cirebon, Kalapa (Pangeran Jakerta) dan Kesultanan Islam Mataram. Dalam Babad Sukapura karangan R. Kertinagara (Wadana Galonggong) menceritakan, dengan terjemahan sebagai berikut :

Diceritakan perihal seorang bangsawan Jawa yang mengembara ke Pasundan, dan bernama Ngabehi Kusumahdiningrat. Mengenai Pangeran Ngabehi itu terdapat dua cerita, yang petama menyatakan bahwa ia cucu Sultan Pajang putra Pangeran Banawa, cerita lain menyebutkan bahwa ia putra Sunan Tegalarum Panembahan Sultan Mataram” (Kertinagara, 1932:5).[50]

Dalam cerita lain, Pangeran Ngabehi Koesumah Diningrat adalah putra Kanjeng Sunan Seda Krapyak atau Sultan Jolang (Sultan Mataram II). Pangeran Kusumah Diningrat merupakan salah satu pewaris tahta kerajaan Mataram pada waktu itu. Sewaktu terjadi perang saudara antara Pajang dan Mataram, Pangeran Kusumah Diningrat belum dewasa, untuk menyelamatkannya beliau di titipkan pada Sultan Demak. Sambil menunggu peperangan selesai, Koesumah Diningrat mengembara mencari ilmu, dan sampailah di Tatar Sunda, tepatnya di kampung Padarek (permulaan), Kecamatan Cigalontang, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya.

Sebagai terah bangsawan salah satu Pewaris Sultan Mataram, Sunan Dago Djawa atau Koesumah Diningrat kecil yang dititipkan oleh Mas Jolang (kelak Sultan Mataram ke-II) kepada Sultan Demak sekitar tahun 1582 Masehi ketika meletus perang Pajang dan Mataram yang dimenangkan oleh Sutawijaya (Mataram, 1575-1601 M). Prabu Hadiwijaya (Adipati Pajang, Jaka Tingkir) memegang tampuk pemerintahan Kesultanan Demak mulai 1560 sampai 1582 M. Kemudian Pemerintahan /Kerajaan Demak dipindahkan ke daerah Pajang[51], oleh karena itu Prabu Hadiwijaya /atau Jaka Tingkir disebut juga sebagai Sultan Pajang sebagaimana diceritakan dalam Babad Sukapura (R. Kertinagara) Ngabehi Kusumah Diningrat sebagai “cucu Sultan Pajang putra Pangeran Banawa”, diduga kuat yang dimaksud Pangeran Banawa adalah Dyah Banawati sehingga Kusumah Diningrat memperoleh julukan Pangeran dari kakeknya. Berikut ini diagram salah satu hasil penelitian penulis terhadap silsilah leluhur Pangeran Kusumah Diningrat dari berbagai sumber dengan pendapat bahwa Pangeran Kusumah Diningrat salah satu Pewaris Sultan Mataram dan cucu Pangeran Banawa :

Gambar 3. Silsilah leluhur Pangeran Kusumah Diningrat (dari berbagai sumber).

Dalam Babad Sukapura (R. Kertinagara) selanjutnya menyebutkan :

Pangeran Kusumah Diningrat /Sunan Dago Djawa, puputra (memiliki anak) :

Sareupeun Cibuniagung, puputra :

Entol Wiraha, puputra :

  1. Wirawangsa, Bupati Sukapura disebut Wiradadaha ke-I (1632 – 1674).

Berdasarkan sebagian bukti-bukti sejarah Soekapoera di atas dan memperhatikan sejarah awal proses Islamisasi maupun pengembangan Islamisasi di wilayah Tatar Sunda sebagaimana yang telah di paparkan sebelumnya, belum ada pengkajian sejarah Islamisasi di Tatar Sunda melalui pendekatan kajian sejarah Kabupatian Soekapoera hingga peranan Bupati Soekapura dalam proses Islamisasi tersebut.

Ahli Sejarah Ahmad Mansur Suryanegara mengatakan bahwa menoleh kembali kemasa lalu, bertujuan untuk memahami masa yang akan datang, yang merupakan tiga dimensi waktu yang selalu berkaitan dan akan menemukan informasi pengalaman yang lebih teruji.[52]

Bersambung…

[1] Kesadaran “manunggalnya” Islam dengan Sunda pernah mencuat pada Musyawarah Masyarakat II di Bandung pada tahun 1967. Endang Saefudin Anshari, yang bukan orang Sunda pituin, menyatakan tesisnya tentang Sunda-Islam dan Islam-Sunda. (Agus Ahmad Safei: MENATAP WAJAH ISLAM DARI JENDELA SUNDA, Banjarmasin, 1 – 4 November 2010, Annual Conference on Islamic Studies, (ACIS) Ke – 10).

[2]Dadan Wildan (Dosen Universitas Galuh, Ciamis, Jawa Barat), “Perjumpaan Islam dengan Tradisi Sunda”, Harian Umum Pikiran Rakyat /HU-PR, Tanggal 7 Agustus 2003.

[3]Engkus Ruswana K (Seorang Planolog praktisi konsultan pembangunan daerah kota, sekaligus sebagai Pengikut Ajaran Bapak Mei Kartawinata), “Memprihatinkan, Penulisan Sejarahnya Hanya Warisan Penjajah : Perjumapaan Islam dengan Tradisi Sunda”, Harian Umum Pikiran Rakyat /HU-PR, Tanggal 14 Juni 2003.

[4] Sejarah Berdirinya Nahdhatul Ulama (NU) https://id.wikipedia.org/wiki/Nahdlatul_%27Ulama dan http://www.nu.or.id/about/sejarah (Diunduh tanggal 15 Agustus 2016, pukul 21:19 WIB)

[5] Masduri, Merawat Islam Nusantara, Menjaga Masa Depan Islam, Penulis adalah finalis kompetisi Penulisan esai International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) PBNU, Jumat, 06 Mei 2016, http://www.nu.or.id/post/read/67940/merawat-islam-nusantara-menjaga-masa-depan-islam (Diunduh tanggal 15 Agustus 2016, 21:51 WIB)

[6] Nico Pruca : Melihat Islam, Lihatlah Indonesia, dari situs http://www.nu.or.id/post/read/68133/pakar-radikalisme-eropa-melihat-islam-lihatlah-indonesia (Diunduh tanggal 15 Agustus 2016, 22:39 WIB).

[7] http://sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabel?tid=321&wid=0 (Diunduh tanggal 15 Agustus 2016, 22:21 WIB)

[8] Ibid.

[9] Thomas Stamford Raffles, History of Java, Penerj. Eko Prasetyaningrum, Nuryati Agustin dan Idda Qoryati Mahbubah, (Yogyakarta: Penerbit Narasi, 2008), hlm. 71.

[10] Mona Lohanda, “Studi Minoritas dalam Spektrum Kajian Sejarah Indonesia”, dalam Henri Chambert-Loir dan Hasan Muarif Ambary (eds.), Panggung Sejarah : Persembahan kepada Prof. Dr. Denys Lomboard, (Jakarta: EFEO, Puslitbang Arkenas dan Yayasan Obor Indonesia, 2011), hlm. 139.

[11] M. Habib Mustopo, Kebudayaan Islam di Jawa Timur: kajian beberapa unsur budaya masa peralihan. (Jendela, 2001) hlm. 42. https://books.google.co.id/books?id=w0FwAAAAMAAJ (Diunduh 29 Agustus 2016)

[12] Muhammad Yamin, Tatanegara Madjapahit, Jajasan Prapantja, Djakarta: 1962. Ejaan disesuaikan dengan EYD.

[13] Moquette membaca 495; sedangkan pembacaan oleh Ravaisse adalah 475, demikian pula sesuai pendapat Tjandrasasmita, Damais, Lombard, dll. Sumber https://id.wikipedia.org/wiki/Fatimah_binti_Maimun (Daikases 20 Agustus 2016)

[14] Claude Guillot & Ludvik Kalus, Inskripsi Islam tertua di Indonesia, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta, 2008, ISBN 10: 979-910103-4, hlm. 21.

[15] Keterangan penulisan QS = Qur’an Surah, Nomor Urutan Surah dengan tanda [  ], pemisah : nomor Ayat. Contoh dalam Al-Quran Surah Ar-Rahman nomor urutan surah adalah [55] : nomor ayat 25 sampai dengan tanda “-“ 28.

[16] Hasil konversi berdasarkan Sofware Hijri Calendar, H. Motiwala versi 2.0.3

[17] Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta, 2010, ISBN 978-979-9102-12-6, hlm. 75-76.

[18] http://chaerolriezal.blogspot.co.id/2014/02/kerajaan-islam-yang-pertama-di.html (Diunduh 25 Agustus 2016)

[19] Ayatrohaedi, Sundakala Cuplikan Sejarah Sunda berdasarkan Naskah-Naskah “Panitia Wangsakerta Cirebon, Jakarta : Pustakajaya, 2001,hal.131.

[20] Galuh adalah Kerajaan yang berada di wilayah Jawa Barat yang berdiri sejak tahun 612 M dengan rajanya berna Resi Kandayun “Wretikandayun” cucu dari Kretawarman, raja Tarumanagara kedelapan.( R.H.Undang Sunardjo, SH., Dkk, Hari Jadi Tasikmalaya, Cetakan-I, 1978. Hal.10).

[21]Ayatrohaedi, Op.Cit., hal.132.

[22]Mumuh Muhsin Z., PENYEBARAN ISLAM DI JAWA BARAT, Disampaikan dalam Saresehan Nasional, “Sejarah Perjuangan Syaikhuna Badruzzaman (1898 – 1972)“ Diselenggarakan pada tanggal 13 Juni 2010, Di Pondok Pesantren al-Falah, Mekargalih, Tarogong Kidul, Kabupaten Garut.

[23]Mumuh Muhsin Z : “Masuk dan berkembangnya Islam di Jawa Barat” merupakan tema yang sudah banyak dibahas oleh peneliti terdahulu. Dua di antara sekian banyak tulisan yang membahas masalah itu adalah Edi S. Ekadjati (1975) dan Uka Tjandrasasmita (2009). Oleh karena itu, tulisan subbab ini banyak bersumber dari kedua tulisan tersebut.

[24] Ibid, hal. 4.

[25] Ayatrohaedi, Ayatrohaedi, Op.Cit, hal.135.

[26] Ki Gedeng Tapa adalah salah seorang putra Ki Gedeng Kasmaya, penguasa di Cirebon Girang. Naskah “Cerita Purwaka Caruban Nagari, Bagian ke-5”, https://id.wikipedia.org/wiki/Cerita_Purwaka_Caruban_Nagari  Diunduh 29 September 2016

[27] Atja, Carita Purwaka Caruban Nagari : Karya Sastra sebagai Sumber Pengetahuan Sejarah, Bandung : Proyek Permuseuman Jawa Barat,1986, hal.10.

[28] Tan Ta Sen, Cheng Ho: Penyebar Islam dari China ke Nusantara (Jakarta: Kompas, 2010), hlm.223.

[29] Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho hlm. 38.

[30]Slamet Mulyana, Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, PN Bhratara Jakarta, 1968. Hal. 34

[31] Ibid., Hal. 18.

[32] Dalam bahasa Sundanya : Ku raja-raja Sunda, ceuk Undang Darsa., M.Hum., (Dosen Filolog Universita Padjadjaran), sumebarna agama Islam di tatar Sunda, henteu dipandang hiji ancaman. “Nu matak Prabu Wastukencana teu ngaharu biru Haji Purwa, Syéh Quro, Syéh Datuh Kahfi nu nyebarkeun agama Islam di wewengkon Pantura Jawa barat. Asal ulah ku cara paksa pirusa, ulah tepika ngabalukarkeun riributan,” sumber : http://sunda.andyonline.net/2011/07/islam-di-sunda-geus-sumebar-2-abad.html Diunduh 20 Agustus 2016.

[33] Mumuh Muhsin Z. Op.Cit., hal. 11.

[34] Muljana, Slamet, Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. PT LKiS Pelangi Aksara, 2005. ISBN 9798451163.ISBN 9789798451164. hlm. 63.

[35] Atja, 1972: 48-49

[36] Mumuh Muhsin Z. Op.Cit., hal. 7-8. dapat dilihat juga menurut Nina H Lubis, dkk, Sejarah Perkembangan Islam Di Jawa Barat, hal. 19.

[37] Ekadjati, 1975: 92.

[38]Nina H Lubis, dkk. Op.Cit, hal. 20.

[39]Mumuh Muhsin Z., Op.Cit., hal. 12.

[40] Ibid., hal. 13.

[41] Ibid.

[42] Atja (1968) Carita Parahiyangan: Naskah Titilar Karuhun Urang Sunda. Bandung : Jajasan Kebudajaan Nusalarang. Verso XIX Baris 3-5.  https://id.wikipedia.org/wiki/Sri_Baduga_Maharaja#Carita_Parahiyangan  Diunduh 26 Agustus 2016

[43] Tri Budi Marhaen Darmawan – Nurahmad, Menelisik Jejak Satrio Piningit, Cipta Karsa Multimedia – Semarang, Cetakan 1, Desember 2007. Hal. 116-117.

[44] Eddi Tarmiddi : Pengumpulan bahan untuk naskah ini, penulis mulai pada tanggal 16 Juli juli 1956 yang untuk pertama kalinya dimulai dengan satu expedisi kecil ke Tjikeusik (Baduy) dengan perkampungan Baduy lainnya sampai kedaerah sekitarnya yang merupakan perkampungan luaran. Dalam hal ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada dua orang teman sejawat yang bersama-sama melakukan expedisi kecil itu, yakni D. Deddy D. Affndie dan Ir. P. Sumantri Hadi masing-masing dari Universitas Indonesia dan ITB Bandung.

Apa yang penulis peroleh pada mulanya hanyalah berupa kisah duka dari perjalanan Prabu Siliwangi ketika keraton Pajajaran diserang oleh orang-orang Islam dibawah pimpinan salah seorang putra beliau yang telah mameluk Agama Islam bekerja sama dengan kerajaan Islam Banten.

Didalam pengumpulan bahan selanjutnya adalah besar sekali bantuan dari Ki Kais (alm) Girang Puun/Peun Cikeusik, Ki Asan (Girang Seurat/Jaro Tangtu), Ki Molkah dan Ki Adun dari Cibeunyeur, Ki Altasar, Ki Jandot (Puun Cibeo), Kis Asmara dari Cikanyere, Ma Riti dari Cikadu serta beberapa orang tua lainnya dari Cikeusik, Cikaronyana, Cibeo dan dari kampong-kampung panamping. Demikian pula bantuan dari Bapak R. Ondin Wargamihardja (waktu itu Wadana Leuwidamar) dan Ki Ahmad yang menjadi djuru bicara dan pandu kami.

[45] Ibid., Hal 13.

[46] Ibid., Hal 14.

[47] Ibid., Hal 15.

[48]Itje Marlina Dirapraja, Perubahan Sosial di Tasikmalaya (Suatu Kajian Sosiologis Sejarah), Cet. 1-Sumedang:Alqaprint, 2007. ISBN 979-97523-9-7. Hal., 72.

[49] Ibid., Hal 52.

[50] Ibid., Hal 54.

[51] Manaqib / Sejarah Singkat Sultan Fatah. Pada tanggal 4 Mei 2012 bertepatan tanggal 13 Jumadil Akhir 1433 H diadakan Haul Akbar Sultan Fatah yang ke 509H. Pada kesempatan itu dibacakan manaqib(sejarah) singkat beliau. Pembacaan sejarah ini dilakukan oleh KH. Drs. M. Asyik ketua MUI Demak, beliau juga Wakil Bupati Demak periode 2006 – 2010. Sumber : http://demak-ku.blogspot.co.id/2012/06/manaqib-sejarah-singkat-sultan-fatah.html   Diunduh 20 Agustus 2016.

[52] Ahamad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah : Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, (Bandung: Mizan 1995), Cet, ke-2, hal.27.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment