SUNDA-PARAHYANGAN-GALUNGGUNG

SUNDA :

Secara etimologis, kata “sunda” berasal dari bahasa Sanskerta “sund” atau “suddha” yang berarti bersinar, terang, putih. Dalam bahasa Kawi dan bahasa Bali pun terdapat kata “sunda” yang berarti: bersih, suci, murni, tak bernoda, air, tumpukan, pangkat, dan waspada.

Ptolemaues (90 – 168 M.), ahli geografi berkebangsaan Yunani, dianggap sebagai orang pertama yang menyebut “Sunda” yang mengacu pada nama tempat. Kata ini digunakannya untuk menunjuk suatu wilayah yang terletak di sebelah timur India. Terinspirasi oleh Ptolemaeus, para geolog Eropa generasi-kemudian menamai Sunda untuk suatu dataran bagian barat-laut India Timur, sedangkan bagian tenggaranya dinamai Sahul.

Selanjutnya, sejumlah pulau yang terbentuk di dataran Sunda diberi nama “Kepulauan Sunda Besar” dan “Kepulauan Sunda Kecil”. Istilah yang pertama mengacu pada himpunan pulau yang berukuran besar yang terdiri atas pulau-pulau Sumatera, Jawa. Madura, dan Kalimantan. Istilah yang kedua mengacu pada gugusan pulau-pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, dan Timor.

Sunda mulai menjadi nama kerajaan di bagian barat Pulau Jawa, Kerajaan Sunda, yang berdiri pada abad ke-7 dan berakhir pada tahun 1579 M, yang beribukota di Pakuan Pajajaran. Sejak keruntuhan kerajaan itu, nama Sunda terutama yang mengacu pada pengertian geografis tidak begitu menonjol. Istilah Sunda mengemuka lagi pada awal abad ke-20 melalui kelahiran organisasi Paguyuban Pasundan (1914). Perkumpulan ini bertujuan meningkatkan derajat, harkat, martabat, dan kesejahteraan orang Sunda. Organisasi ini pernah mengusulkan kepada Pemerintah Kolonial Belanda agar nama Province West Java yang dibentuk pada tahun 1926 diubah namanya menjadi Provinsi Pasundan.

Usulan tersebut disetujui oleh pemerintah kolonial, sehingga ketetapan tentang pembentukan provinsi ini berbunyi: “…West Java, in inheemsche talen aan te duiden als Pasoendan, ….” (Jawa Barat, dalam bahasa pribumi [bahasa Sunda] menunjuk sebagai Pasundan) (Ekadjati, 1995: 3 – 4).

PARAHYANGAN :

Kata “priangan” berasal dari kata p“arahyangan”. Akar kata “parahyangan” adalah “hyang” atau “rahyang”, kemudian mendapat awal “para-“ dan akhiran “-an” atau awalan “pa-“ dan akhiran “-an”. Pengertian kata ini adalah “daerah yang menjadi tempat tinggal tuhan atau dewa (hyang) yang harus dihormati” atau “daerah yang menjadi tempat tinggal leluhur yang harus dihormati” (Ayatrohaedi, 1969).[1] Setelah mengetahui nama “Hyang” dari hasil kajian teks naskah-naskah Sunda Kuna oleh Mang Ayatrohaedi, nama Hyang yang merupakan pusat asal segala asal (Purwaning Dumadi) yang memiliki nama-nama julukan lain, Hyang bukan dewa, semua dewa-dewa bakti kepada Hyang, serta memperhatikan konsep Kepercayaan /atau Keyakinan terhadap Hyang Agung, maka definisi tentang kata “Priangan –Parahyangan” dapat diperoleh definisi baru untuk menambah /atau memperkaya kajian tentang nama, istilah dari kata Parahyangan tersebut .

Dalam Kepercayaan Parahyangan yang telah dibahas sebelumnya, Parahyangan ditulis dengan Para – Hyangan, awalan kata “Para” sesungguhnya terdiri dari dua suku kata “Pa-Ra”, “Pa=Tempat, Ra=Mata Hari”[2]. Pa-Ra = Tempat yang tersinari matahari adalah Bumi/Dunia.

Mengingat tentang kosmologi Sunda, Bumi sebagai nama hunian/tempat tinggal orang Sunda terdiri dari dua bagian, ada Bumi Alit (kecil) adalah Raga /Mikrokosmos dan Bumi Ageung (besar) adalah Alam /Jagat raya /Makrokosmos.

Adapun arti “Hyangan” terdiri dari “Hyang – an”, arti “an” dari kata Hyangan memiliki makna “terunsuri /memiliki unsur” Hyang. Rahyang /Ra-Hyang berarti “Sinar/cahaya Hyang”. Dengan demikian pengertian Para Hyangan atau ditulis Parahyangan (tanpa dipisah) menurut etimologi adalah “Tempat Tersinari Unsur Hyang Baik Mikrokosmos maupun Makrokosmos”. Sedangkan menurut istilah Para Hyangan adalah “Utusan-utusan yang meyakinkan Adanya  Hyang Maha Agung”.

Selanjutnya apa hubungan Sunda dengan Parahyangan?, atau Pasundan dengan Parahyangan?. Secara historis kata Sunda telah diuraikan di atas, dari mulai Sunda dikenal sebagai tempat kepulauan /wilayah /tatar Sunda, baik Sunda Besar maupun Sunda Kecil, secara etimologis berarti “putih, bersih, suci, murni, bersinar, terang”. Dalam mitos Ngadegna Nagara Sunda berita Pantun Bogor episode Pakujajar Beukah Kembang, Sunda berarti suci atau bahagian yang menyempurnakan (“harti sunda téh suci, waréh nu nyampurnakeun”). Tanah Sunda pada awalnya disebut Buana Sunda. Nama yang diberikan oleh Sanghyang Wenang. Sebab, ketika tanah ini masih berupa hamparan kosong, banyak didatangi orang “nyundakeun diri” (bertapa menyucikan diri).[3]

“…di dinya ta hadé jasa peiun panyundaan nyundakeun diri “:pieun nyampurnakeun raga eujeung sukma, abeh bias ngarasa paeh sajero hirup, ngarasa hirup sabari paeh”. Artinya : (“..disana bagus sekali untuk menyucikan diri, untuk menyempurnakan raga dan sukma, agar mampu merasakan mati selama hidup, merasa hidup sambil dalam keadaan mati”). Kian hari buana sunda kian padat oleh para petapa yang nyundakeun diri. Karenanya, lama kelamaan mereka menyandang sebutan “wang sunda” (manusia suci), nama mewujud suatu komunitas, “etnik sunda” [4]

Mungkin kata Pasundan pun berasal dari kata Panyundaan sebagaimana tersebut di atas. Panyundaan terdiri dari kata Pa-Nyunda-an, begitu pula dengan kata Pasundan dari kata Pa-Sunda-an; Sunda = Nyunda; yang berarti Tempat orang-orang mensucikan diri, nyundakeun diri (Manusia Suci). Apabila dihubungkan pengertian Pasundan dengan Parahyangan, maka PaSundan adalah Tempat/Raga/Diri Suci (saripati air, api, angina/udara, tanah) yang didalamnya terdapat unsur “hyang” Sang Hyang Taya (hyang ; “h” kecil) Mikrokosmos. Pasundan = Tempat Suci, Parahyangan = Isi asal Hyang Agung.

Kemampuan /Penguasaan /Pembelajaran /Pertapaan Manusia-masnusia Sunda terhadap Ajar Pikukuh Para Hyangan untuk  mengetahui Segala Perkara Pertanyaan (Sang Hyang Pananyaan) dan penguasaan terhadap Segala Perkara Jawaban (Sang Hyang Carita) dalam menjalankan, menata kehidupan (Sang Hyang Darmawisesa) di Buana Sunda atas kehendak Sang Hyang Wenang, melahirkan berbagai tingkatan fungsi dan kemampuannya masing-masing baik laki-laki maupun perempuan, semuanya itu dihadapan Hyang sama, pembedanya hanyalah dalam meragakan saja. Hal ini tergambar dalam Kitab Serat Dewa Buda(Gunung) /SDB 26v : 1—2 menyatakan :

1.“…sanghyang tidak tergantung, siwa buddha tidak diajarkan, batara batari[5] tidak dinamai, sunyata tidak diunggulkan. tidak ada. 2.gelar puja, tidak dikaji yang serupa dengan teratai besar itu. tidak ada semuanya itu sebelumnya, hingga pada nafas, ujar, dan tujuan sampai berjumpa dengan kearifan” (Ayatrohaedi 1988: 163).

Dari pembacaan SDB 26v : 1—2 tersebut di atas, menggambarkan seolah terjadi perdebatan tentang keagamaan Siwa dan Budhha (Hindu) dengan ajaran Sanghyang, di ahir baris 2, mengingatkan kembali agar nafas, ujar dan tujuan sampai berjumpa dengan kearifan. Mungkin dampak dari pertentangan ajaran Sanghyang denga Siwa dan Budha ini mgengakibatkat “batara – batari” pun “tidak dinamai”, yang nyata-nyata ugul pun tidak dijungjung. Mengapa tidak dinamai?, mungkin karena tingkatan tertinggi setelah Batara-Batari adalah Hyang dan lahirlah istilah gelar Batara Hyang – Batari Hyang, bukan batara-batari Siwa bukan pula batara-batari Budha (siwa budha tidak diajarkan).

Mengingat nama Batari Hyang, bagi masyarakat Sunda pada waktu itu sangat dihormati, Batari Hyang adalah sosok Ibu Sejati (pelindung, penjaga, penyejahtera), beliau adalah tokoh wanita satu-satunya dalam sejarah Jawa Barat sebagai Resi-Raja-Ratu Sunda yang bertahta di Galunggung. Nama gelarnya terpahat dalam sebuah Prasasti Rumantak /atau disebut juga Prasasti Geger Hanjuang.

Prasasti Geger Hanjuang[6] merupakan prasasti ke 10 yang ditemukan di Jawa Barat. Ia ditemukan oleh K.F. Holle sekitar tahun 1877, kemudian dibawa dan disimpan oleh Dr. Krom pada tahun 1914. Kini masih terpelihara dan disimpan di Museum pusat Jakarta dengan nomor inventaris D.26. Pembacaan prasasti yang pertama dilakukian oleh K.F. Holle dan hasil bacaannya ditulis dengan judul :Bescheeven Steen Uit Afdeeling Tasikmalaya Residenties Preanger, TBG 24, 1877 halaman 586. Kemudian koreksi C.M. Pleyte pada tulisannya : Het Jaartal Op Den Batoe Toelis Nabij Buitenzorg, TBG. 53, 1911. Akhirnya koreksi Drs. Saleh Danasasmita serta Drs. Atja yang untuk kedua kalinya, hasil bacaan menjadi :

Tra Ba I Gunna Apuy Nas

Ta Gomati Sakakala Ru Mata

K Disusu (K) Ku Batari Hyang Pun

Tra Ba I Gunna Apuy Nasta Gomati Sakakala, artinya tanggal 13 bulan Badrapada tahun 1003 Saka. Ru Mata K Disusu (K) Ku Batari Hyang pun, artinya rumatak (maksudnya rumatak) nama sebuah tempat di Galunggung disusuk oleh Batari Hyang. Tanggal 13 Badrapada Saka, setelah dihitung sama dengan 21 Agustus 1111 Masehi. Yang dimaksud rumatak ialah nama sebuah tempat di Linggawangi dan selain itu ada tempat yang di beri nama Saung Gede yang dalam sejarah disebut Saung Galah artinya Keraton, letaknya tidak jauh dari kabuyutan sanghyang (terdapat batu tegak /tetengger /disebut batu sanghyang).

Peristiwa Nyusuk terdapat dalam berita dari tiga prasasti, ialah :

Batu tulis astana gede kecuali Kabupaten Ciamis disebut Prabu Wastu Kencana Marigi Sakuriling Dayeuh. Batu ditulis di Bogor, disebut Sri Baduga Maharaja Nyusuk Na Pakuan.

Kata Nyusuk menurut pustaka nagara kertabumi diartikan amegahing, artinya : membuat parit pertahanan sekeliling pusat kerajaan. Memang betul, bahwa disekitar itu masih terdapat nama kampung Parigi dan kampung Candi. Pengertiannya ialah, bahwa pada tanggal 13 Badrapada itu, Batari Hyang mengerjakan pembuatan parit pertahanan keraton di ibukota kerajaan Galunggung yang disebut Rumatak. Artinya suatu pendirian kerajaan, perubahan dari kebataraan yang tadinya secara turun temurun berkedudukan sebagai Batara Sanghyang Guru Galunggung.

Ia disebut Batari Hyang, karena dirinya seorang wanita. Diantara raja-raja di Jawa Barat yang diberitakan pernah memperkokoh pertahanan ibu kotanya dengan parit yang juga satu-satunya tokoh wanita. Tindakan Nyusuk ini tentunya diambil segera setelah mewarisi tahta Galunggung.

 GALUNGGUNG :

Membahas pemerintahan tentang periode Galunggung, dalam Buku Hari Jadi Tasikmalaya tahun 1978, menguraikan Galunggung dengan membagi kedalam 2 bagian, pertama Galunggung Awal ialah Galunggung yang disebutkan dalam Carita Parahyangan dan Pustaka Nagara Kertabumi. Uraian yang kedua disebut Galunggung Akhir ialah Galunggung yang dikaitkan dengan Prasasti Geger Hanjuang. Dasar pertimbangan mengenai pembagian uraian ini disebabkan bahwa pada Galunggung Awal ini di mulai menceritakan adanya suatu pemerintahan di Galuh.[7] Kejaraan Galuh mulai ada “berita tahun” ketika diperintah oleh :

  1. Resi Guru (tahun 448-490 Saka / 526-568 Masehi)
  2. Rajaputra Suralimansakti (tahun 490-519 Saka / 568-597 Masehi)
  3. Kandihawan Rajaresi Dewaraja (tahun 519-534 Saka / 597-612 Masehi)
  4. Writikandayun Prabu Galuh atau disebut juga Rahyangta Ri Menir (tahun 534-624 /612-702 Masehi).[8]

Mengenai kata Galunggung tedapat dua keterangan, keterangan yang pertama berdasarkan etimologie, bahwa Galunggung itu asal dari akar kata “gung” artinya “besar”. Dalam bahasa Sunda kita mengenal ungkapan kata “jumlah gunggungan”. Artinya “jumlah besar atau jumlah keseluruhan”. Kemudian kita mengenal ungkapan kata “leuweung ganggong sima gonggong atau leuweung gunggung sima gunggung”, artinya “hutan besar/lebat, harimaunya juga besar-besar”. Keterangan kedua berdasarkan historis, bahwa Galunggung yang disebut dalam Carita Parahyangan terdapat keterangan “Tembey Sang Resi Guru ngajuga Taraju Djawa dipa, Taraju ma inya Galunggung, Djawa ma ti wetan”.(Drs. Atja, Tjarita Parahiyangan, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung, 1968, Hal. 8).[9]

Sehubungan dengan definisi Galunggung, penulis pun mencoba menambah pengertian terhadap arti kata Galunggung untuk menambah wawasan dengan memperhatikan historis maupun filosofis keagamaannya. Pertama secara histories yang telah dijelaskan di atas, membagi masa periode Galunggung menjadi dua, Galunggung Awal dan Galunggung Akhir, Galunggung Awal disebabkan karena mulai ada berita tahun tentang Pemerintahan Kerajaan Galuh. Kedua keagamaan /atau Kepercayaan di Tatar Sunda Pra Islam berdasarkan kajian Kitab-kitab Sunda Kuna adalah menganut konsep Hyang (Para Hyangan). Kata yang dipakai nama atau gelar Resi Guru dan Rajaresi = Raja-Resi, Resi /Rasy/Rishi terdapat dalam Naskah Serat Dewa Buda“Gunung” (SDB) atau dengan nama lain Serat Sewakadarma Kropak 408, bagian (Darmapitutur) :

/25/…ka-Rasey-an ning janma. Artinya : “mengetahui ke-Rahasia-an manusia”. Sedangkan Kata RaHyang-ta Ri Menir merupakan gelar Wreti-Kandayun /Resi Kandayun putra Rajeresi Kandiawan. RaHyang berarti “cahaya /sinar Hyang”.

Dengan pertimbangan dua dasar tersebut, maka kata Galunggung dibagi menjadi tiga suku kata, Galuh-ng-gung, 1.“Galuh”, 2.“ng”, 3.“gung”. Pada kata ke-2 “Ng” dapat ditemukan juga dalam kalimat Sanghyang-Siksa-Kanda-Ng-Karesian, atau Sanghyang – Siksa – Kanda – HyaNg – Karesian (Sanghyang merupakan tuntunan/siksa/ajaran Hyang untuk mengenal Diri /memahami rahasiah diri /Karesian). Sehingga “Ng” pada suku kata ke-2 dalam kata Galunggung adalah Hyang, menjadi 1.“Galuh”, 2.“Hyang”, 3.“Gung/Hung-HaHung-Agung”. Kata “Galuh /Galeuh-na artinya Intan /Permata-nya”.

Defisinisi kata Galunggung secara etimologi berarti “Galuh Hyang Agung /atau Permata Hyang Agung”. Adapun pengertian menurut istilah, Galunggung adalah “Sebuah Pemerintahan yang Berdasarkan Keagamaan”.

Mengetahui definisi Galunggung tersebut di atas, mungkin pembaca dimasa sekarang akan bertanya.. (1).Agama apa?. Jawabannya : “rampésna agama”(Galunggung, Kropak 632) artinya agama sempurana. (2).Siapa nama Tuhannya?. Jawabannya : “Hyang Agung (Konsep HYANG)”. (3).Siapa Nabi /Rasul /utusan Tuhan /atau utusan Hyang yang mengajarkannya?. Jawabannya : “Para Hyangan” [10]. (4). Apa Kitab Suci Tuhannya /Kitab Suci Hyangnya?. Jawabannya : “Sastra-Jendra-Rahayu-Ning-Rat”[11]. (5). Kemana arah kiblat untuk Sembahyangnya?. Jawabannya : “untuk Sembah-Hyang, tempat kiblatnya ada didalam diri. Dalam diri terdapat SangHyang Taya, tempatnya SangHyang Pananyaan dan SangHyang Carita” (Naskah Sanghyang Raga Dewata, Kode dj66.2923/[06] dan Naskah Serat Dewa Buda“Gunung” /SDB Kropak 638).

(6). Bagaimana dengan banyaknya ditemukan, Lingga (Linggahyang, Lingga-Yoni), arca dewa-dewa di Tatar Sunda /Jawa Barat?.

Jawabannya : ada didalam Naskah SDB 39r: 2—4 dan 39v: 1—2 :

39v:2,”…Demikianlah bermacam keluarnya tujuan dalam impian, diwujudkan semuanya

39v.1. oleh tujuan ketika itu, dikeluarkan semuanya gambaran itu, meragakan Siwa, Buddha, Brahma, Wisnu, raksasa, pitara, ditempatkan dalam puspalingga dan 2.arca. Itulah sebabnya terdapat Hyang dalam tujuan dunia seluruhnya dalam waktu…” (Ayatrohaedi 1988: 176).

SDB menyatakan bahwa prana adalah indra, adalah kehidupan adalah tujuan (acuan), dan acuan hidup itu ialah Hyang (Sang Hyang Taya). Dalam lingkungan seluruh dunia selalu terdapat Hyang sebagai acuan. Dewa-dewa Hindu dan Buddha dinyatakan hanyalah Visualisasi dari tubuh (raga) dalam mimpi, jadi semu agar menjadi konkret kemudian “ditempatkan dalam puspalingga dan arca”.[12]

Gambaran /atau Visualisasi /atau Symbol/Sandi RAGA adalah Puspa(Bunga)Lingga dan Arca. Apabila arah kiblat Sembah Hyang tempatnya didalam Diri (Sanghyang Taya), maka tempat arah kiblat Symbol-nya adalah dimana PuspaLingga dan Arca tersebut di Letakkan.

Adapun lokasi Gunung /Bukit (geografis) dimana pun PuspaLingga, arca, dolmen, menhir /Tunggul itu di Tempatkan, maka gunung/bukit tersebut secara khusus disebut dengan KaBuyutan. Dengan demikian makna KaBuyutan memiliki 2 (dua) arti, pertama KaBuyutan arti Sejati adalah Diri(tempat Sembah Hyang), kedua KaBuyutan arti Ragawi adalah teritorial/wilayah dimana Simbol Ragawi baik Puspalingga, Arca, dolmen, menhir, Tunggul/makam tersebut ditempatkan.

Semakin bertambah dan berkembangnya aktivitas penduduk, maka Kabuyutan pun menjadi pusat berbagai aktivitas sesuai fungsinya. Dengan demikian dapat difahami bahwa Kabuyutan adalah Sebuah lokasi atau tempat yang disakralkan menurut aturan, seperti: keraton atau istana raja, kabataraan sebagai lembaga kaum rama, kawikwan sebagai lembaga golongan resi, mandala sebagai lembaga pendidikan, tempat peribadatan dan keagamaan, tempat pemakaman, dan sebagainya.[13]

SYMBOL PUSPALINGGA : KABUYUTAN GALUNGGUNG, INDIHYANG

Gambar 1. Situs Lingga-Yoni, Indihyang (10 November 2012), Kota Tasikmalaya

SYMBOL PUSPALINGGA : KABUYUTAN GALUNGGUNG, GUNUNG PAYUNG

Gambar 2. Linggahyang /Lingga-Payung, di Situs Gunung Payung, Kec. Karangjaya, Kab. Tasikmalaya. 17 November 2012 M.

Gambar 9. Jarak tempuh dari Lingga-Yoni ke Lingga-Payung, -/+ 30 Km.

Wilayah Galunggung adalah salah satu pusat KeBataraan Para Hyangan, dalam Fragment Carita Parahyangan Koropak No. 406, diberitakan sebagai berikut :

Alas Galunggung ti timur hanggat Palangdatar ti kaler hanggat Sawal, ti barat hanggat Cibulan. Alas Geger ti barat Cilanglaya ti kaler hanggat Parakukan, unggahna Geger Handiwung, Pasir Taritih, muhara Cipagerjampang diterus hulu Cilala, alas ti barat Cipatujah di muhara Cipalatih ti barat hanggat Gunung Kendeng”.(Fragment Carita Parahyangan Koropak No. 406, hal. 174).

Terjemahnya “Daerah Galunggung dari timur berbatas dengan Palangdatar (mungkin leuweung datar di daerah Ciamis sekarang), dari utara Sawal, dari barat Cibulan. Daerah Geger dari barat Cilanglaya, dari utara Parakukan terus Geger Handiwung. Pasir Taritih, muara Cipagerjampang terus hulu Cilala (mungkin Cilangla), daerah sebelah barat Cipatujah di muara Cipalatih dari barat berbatas Gunung Kendeng”.[14]

Wrti/Resi Kandayun Prabu Galuh /Rahyangta Ri Menir (tahun 534-624 /612-702 Masehi) diberitakan memiliki 3 (tiga) orang anak : yang sulung bernama Batara Sempakwja ditempatkan menjadi Batara DangHyang Guru (menurut berita rakyat disekitar Linggawangi /Tunggul Batu Menghir /disebut juga Batu Sanghyang). Yang kedua putra Rahyangta Ri Menir bernama Batara Jantaka, ditempatkan di Denuh /Resi Kidul, Cipatujah dengan sebutan Rahyangta Kidul, bahkan nama Karang Nunggal adalah dari keunggulang Resi Kidul disebut juga Batahyang Karang Nunggal, “Batara=Luhur; Karang=Kuat; Pilih Tanding/nunggal/tidak ada yang mengalahkan”.[15] Nama Karang Nunggal sekarang menjadi nama Kecamatan di daerah selatan Kabupaten Tasikmalaya. Yang ketiga ialah Rahyangta Mandiminyak yang mewarisi tahta Kerajaan Galuh (Drs. Atja Op-cit, halaman. 17).[16]

Rahyangta “cahayanya Hyang” Sempakwaja yang kemudian bertugas menjadi Danghyang Guru di Galunggung mempunya kekuasaan dalam ngabhiseka raja-raja. Raja baru syah jika telah disetujui /direstui Galunggung. Kepadanya diberi daerah-daerah penunjang (apanager) sebanyak 12 daerah. Berita mengenai para Batara sebelum Batara Sempakwaja, menurut cerita rakyat disebutkan : Sanghyang Puhun, Sanghyang Tunggal, Sanghyang Wiraga, Batara Tunggal, Ratu Demang Seda Kamulan Batara Sakti, Batara Siluman, Batara Sombeng, kemudian Batara Sempakwaja. Setelah Batara sempakwaja disebutkan Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu dan kemudian Batari Hyang (Naskah, R.H. Wiraatmadja, singaparna). Dari mulai Batara Sempakwaja, ceritera itu sudah bersifat manusiawi dan dapat dijadikan berita sejarah. Karena itu uraian mengenai Galunggung Awal masih diperlukan sumber-sumber berita lagi untuk dijadikan rentetan berita sejarah yang lengkap.[17]

Sebelumnya telah disebutkan tentang konsep keagamaan masyarakat Tatar Parahyangan /Tatar Sunda, berikut dengan kedudukan gelar Keagmaannya baik Batara-Batari, Resi, Rajaresi /atau pun gelar Rahyang. Nama-nama dalam konsep ajaran Hyang pun terkakadang dijadikan nama untuk dirinya sendiri. Seperti nama Sanghyang Puhun, nama Sanghyang Tunggal, Batara Tunggal dan lain-lain, nama-nama ini adalah nama yang terdapat dalam konsep Ajaran Hyang, kemudian dijadikan nama untuk dirinya /tokoh tersebut.

Daftar Sumber :

R.H. Unang Sunaryo, dkk. 1978. : Hari Jadi Tasikmalaya, Cetakan –I, 1978.

Itje Marlina Dirapraja, 2007. : Perubahan Sosial di Tasikmalaya (Suatu Kajian Sosiologis Sejarah), Cet. 1-Sumedang:Alqaprint, 2007. ISBN 979-97523-9-7.

Atja. 1968. : Carita Parahiangan. Bandung: Yayasan Kebudayaan Nusalarang.

——-. 1972:  Carita Purwaka Caruban Nagari. (Sejarah Mula Jadi Cirebon). Jakarta : Proyek Pengenbangan Permuseuman Jawa Barat.

Atja dan Saleh Danasasmita. 1981. : Sang Hyang Siksakanda Ng Karesian (Naskah Sunda Kuno Tahun 1518). Bandung: Ikatan Karyawan Mseum.

——-. 1981 : Amanat Dari Galunggung (Kropak 632 Dari Kabuyutan Ciburuy, Bayongbong-Garut).

Ekadjati, Edi S. 1995. : SUNDA, NUSANTARA, DAN INDONESIA

Aditia Gunawan, 2010.  Tinjauan Napas Keagamaan Hindu-Buddha Dalam Beberapa Naskah Sunda Kuno (Abad Ke-14—16 M), 2010. http://naskah-sunda.blogspot.co.id/2010/11/tinjauan-napas-keagamaan-hindu-buddha.html

——-. 2009 : SANGHYANG SASANA MAHA GURU DAN KALA PURBAKA Suntingan dan Terjemahan Editor: Agung Kriswanto Nindya Noegraha, PERPUSTAKAAN NASIONAL RI 2009

Bustanul Arifin, 2001. : “Pelembagaan Hukum Islam di Indonesia”, Gema Insani Press.

Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, 2008 : “Sejarah Nasional Indonesia II” (BALAI PUSTAKA, 2008, Edisi Pemutkhiran). Hal. 412.

Anis Jatisunda, 2008. : Fenomena Keagamaan Masa Sunda Kuna Menurut Berita Pantun & Babad, Disampaikan dalam acara Gotra Sawala (Seminar) “Revitalisasi Makna dan Khazanah Situs Sindang Barang”, di Kampung Budaya Sindang Barang Kabupaten Bogor. tgl. 19-20 April 2008.

Agus Setia Permana, 2013. : Sanghyang Raga Dewata, dipostingkan oleh Agus Setia Permana, 03 Oktober 2013. http://balangantrang.blogspot.co.id/2013/10/sanghyang-raga-dewata.html

Elis Suryani NS, 2006. : GAMBARAN KOSMOLOGIS MASYARAKAT SUNDA Sebagaimana Terungkap Dalam SANGHYANG RAGA DEWATA (Naskah Lontar Abad XVI Masehi), Disampaikan dalam Seminar Penelitian Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran, Bandung 2006.

Undang A. Darsa, 2014. : KONSEPSI DAN EKSISTENSI GUNUNG BERDASARKAN TRADISI NASKAH SUNDA (Sebuah Perspektif Filologi). UADarsa-FIBU-1432014.

Mumuh Muhsin Z. 2009. : SUNDA, PRIANGAN, DAN JAWA BARAT, Disampaikan dalam Diskusi “Hari Jadi Jawa Barat” Diselenggarakan oleh Harian Umum Pikiran Rakyat Bekerja Sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat pada hari Selasa, 3 November 2009 di Aula Redaksi HU Pikiran Rakyat

——-. 2007 : MASUKNYA ISLAM KE NUSANTARA, Sebuah Diskusi Ulang, MAKALAH disampaikan dalam diskusi Sejarah Islam Indonesia diselenggarakan Mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Jatinangor, 13 Maret 2007

——-. 2010 : PENYEBARAN ISLAM DI JAWA BARAT, Disampaikan dalam Saresehan Nasional, “Sejarah Perjuangan Syaikhuna Badruzzaman (1898 – 1972)“ Diselenggarakan pada tanggal 13 Juni 2010, Di Pondok Pesantren al-Falah, Mekargalih, Tarogong Kidul, Kabupaten Garut

——-. 2011 : PRABU SILIWANGI Sejarah atau Dongeng? MAKALAH disampaikan dalam Dialog Interaktif “Revitalisasi Nilai-Nilai Budaya Masyarakat Tatar Sunda” (Nyusur Galur Mapay Raratan, Ngaguar Warisan Karuhun Urang); diselenggarakan oleh Bank Indonesia Kantor Regional Jabar-Banten bekerja sama dengan Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat dan JITUJI pada tanggal 20 Mei 2011, bertempat di Gedung BI Perwakilan Jawa Barat oleh:

Kalsum, 2001. : WAWACAN JAKA ULA JAKA ULI SEBAGAI KARYA SASTRA TASAWUF SUNDA LAPORAN PENELITIAN, FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS PADJADJARAN 2001.

[1] Mumuh Muhsin Z. Op.Cit. Hal. 3.

[2] Ra dikenal dalam mitology Mesir sebagai Dewa Matahari, https://en.wikipedia.org/wiki/Amun, Dewa Ra: Mitos & Makna Dewa Matahari pada Bangsa Mesir Kuno http://www.amazine.co/21733/dewa-ra-mitos-makna-dewa-matahari-pada-bangsa-mesir-kuno/ Diunduh 15 September 2016.

[3] Anis Jatisunda,. Op.Cit. Hal. 2.

[4] Ibid.

[5] Istilah Batara-Batari, Batara = Luhur, tingkatan tertinggi bagi Laki-laki, Batari = Luhur, tingkatan tertinggi bagi perempuan. Hasil wawancara penulis dengan Bapak S. Endang K pada tanggal 17 April 2003 M.

[6]R.H. Undang Sunarjo., dkk, Op.Cit. Hal. 13-23.

[7] Ibid., Hal. 9.

[8] Ibid., Hal. 10.

[9] Ibid., Hal. 9.

[10] Sastra : Hartina toelisan sakabeh anoe doemadi, anoe koemelip di alam doenja, estoe geus hoeroep teu aja tjawadeunnana, sarta kabeh kersana Noe Maha Agoeng, anoe matak bangsa oerang ti djaman Karoehoen moela geus pertjaja sarta moedji koe milampah kahadean sangkan diri djeung lianna(pangeusina doenja) pinanggih djeung rahajoe.    Djendra : hartina Woedjoed ajana Noe Maha Agoeng teu bisa dipapandekeun sanadjan djeung naon-naon oge, ari bangsa oerang pertjaja jen ajana Woejoed Noe Maha Agoeng (Hjang Agoeng) nya eta keo ajana Para Hjangan anoe teges asalna ti Hjang Agoeng tea. Mei Kartawinata, Boedi – Dadja., Hal. 9.

[11] Ibid.

[12] Aditia Gunawan, Op.Cit.

[13]Undang A. Darsa, KONSEPSI DAN EKSISTENSI GUNUNG BERDASARKAN TRADISI NASKAH SUNDA (Sebuah Perspektif Filologi). UADarsa-FIBU-1432014. Hal. 16

[14] R.H. Undang Sunarjo SH., dkk. Op.Cit., Hal. 9-10.

[15] Hasil wawancara penulis dengan Bapak S. Endang K (murid Bapak Mei Kartawinata) pada tanggal 17 April 2003 M. Cikalang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

[16] R.H. Undang Sunarjo SH., dkk. Op.Cit., Hal. 10.

[17] Ibid., Hal. 11.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 comments